Orang feminin cenderung mudah disalahpahami oleh orang maskulin. Tak jarang, sang pembaca maskulin menilai si penulis feminin telah melakukan kesalahan yang amat besar. Begitu fatalnya kesalahan itu di mata sang maskulin, sampai-sampai si feminin dianggap layak dipermalukan, diolok-olok, dan dikritik habis-habisan di depan publik.
Menghadapi serbuan kritik di depan publik, kita tak usah panik. Tenang sajalah. Tak perlu kita terlibat dalam perang terbuka dengan mereka. Dari Pak Ajinatha, seorang kompasianer senior yang sering menulis artikel tentang blogging, kita telah mendapat sebuah cara cerdas: “Koreksi Via Inbox Lebih Baik“.
Untuk mengoreksi kesalahpahaman, kami suka melakukan pendekatan secara pribadi lewat inbox. Cara cerdas ini sangat efektif. Berkat tips ini, ada banyak pembaca maskulin yang tadinya menyerang kami, sekarang balik mendukung.
Tentu, tidak semua kesalahpahaman pembaca itu dapat diatasi melalui inbox. Ada kalanya sang maskulin enggan mengakui dirinya salah paham. (Gengsi ‘kali, ya!) Bukannya minta maaf, dia malah membuka front pertempuran baru dengan cara menyebar gosip di mana-mana, baik dalam bentuk artikel maupun komentar.
Dalam suasana panas yang membara begitu, tak usah kita menghunus pedang. Damai sajalah. Dari Om Valentino, seorang pria idaman wanita di kompasiana, kita telah dibekali dengan sebuah jurus cantik: “buat saja tulisan “KATAKAN SAJA BILA KAU NAKSIR PADAKU”.”
Cara cantik ini ternyata ces pleng. Seorang personil kami, yakni Ma Sang Ji, telah menggunakannya kemarin dalam meredam gejolak maskulinitas seorang pembaca berinisial SP. (Jangan salah paham, ya! Yang kami maksud ini bukan Sutan Pangeran.)
Adegan Mesra MSJ-SP
MSJ: “Tentang Vote AKTUAL, kami pun sepakat bahwa pengakuan pembaca harusnya berjalan alamiah tanpa diminta. Begitulah dalam keadaan normal. Kalau belakangan ini kami minta vote, itu bukan kebiasaan kami. Itu kami lakukan karena keadaan kita sedang tidak normal. Saat ini masih ada rekayasa dari tangan-tangan misterius yang mempermainkan angka vote. Kalau mau tahu lebih rinci, silakan simak artikel “Tangan Misterius di Kolom Teraktual“. Nanti kalau keadaan kita sudah normal, kami akan berhenti meminta vote dari pembaca.”
SP: “katro abis tuh yg ngemis2 vote aktual. artikel bunuh diri itu memang sengaja dilebay2kan. maklum lah penulisnya juga lebay, besok2 kalo ada ibu yang punya anak 4, dan dari 4 itu hanya 1 yang perempuan, mungkin ibu itu bakal dicap tidak feminin sama si penulis. salam lebay
“
MSJ: “SP kayaknya lagi naksir diriku, nih (GR mode: on). Buktinya, di mana-mana dia menaruh perhatian besar pada diriku. Makasih SP
~ Mbak Julia, komentar si SP itu nggak usah dihapus, ya! Biar jadi bukti betapa cintanya dia pada diriku. Wkwkwkwk…
“
SP: “kasian
“
MSJ: “Kasian? Kasian kepadakukah? Mestinya tidak padaku. Sebab, dicintai itu nikmat. Masak, merasa nikmat malah dikasihani? Hehe… Wahai para pembaca, minta vote: DIRESTUI, dong! Tuh, diam2 SP udah nyatakan cinta padaku
“
Copyright by A Sia Na
Copyright by A Sia Na
Kalau Kritiknya Membangun
Tentu saja, tidak semua kritik itu lahir dari kesalahpahaman. Tidak tertutup kemungkinan, kamilah yang berada di pihak yang salah, sehingga membutuhkan koreksi. Contohnya adalah komentar dari Elang Langit terhadap artikel bunuh diri itu.
Terhadap kritik yang membangun tersebut, kami berusaha menggunakan cara yang cantik pula: “Mas Elang Langit, makasih banget atas sarannya. Komentar terbaik sampai sejauh ini. Mau hadiah apa Mas?
Silakan minta, tapi kami nggak janji bisa memberikannya. :p ~ Pesan Mas akan saya sampaikan ke temen2 penulis feminin lainnya.“


Mochammad
18 September 2011 at 00:26
Kritik buat siapa pun dari siapa pun tentu tujuan untuk mengoreksi diri tentang apa yang kita lakukan atau tuturkan. Memang ada yang memilih mengkritik dengan cara “tajam” dan ada yang bijak. Manusia dewasa, baik feminin ataupun maskulin, mestinya bisa dan mulai (harus) belajar menerima sebuah kritikan dengan lapang dada.
Salam,
Mochammad
http://mochammad4s.wordpress.com
http://piguranyapakuban.deviantart.com
Green Borne
18 September 2011 at 14:37
hahahahaha… genjot terusssss
matairmenulis
18 September 2011 at 15:21
Selamat atas terbentuknya a sia na, semoga selalu memberi pencerahan pada pembacanya, salam sukses
Agus Pribadi
kimfoengkim foeng
18 September 2011 at 19:58
Kepada teman-teman yang tergabung dalam A Sia Na, selamat ya.
Semoga karya-karya baru lahir dari kolaborasi teman-teman.
A Sia Na
18 September 2011 at 21:15
@ Mochammad
Setuju. Kalau pun menolak kritikan, dengan lapang dada pula.
@ GeBe
*crittt terus wkwkwk…
@ Agus Pribadi & Kim Foeng
Amin. Dari Anda, kami mohon dukungan selalu. Terima kasih.
noorhanilaksmi
21 September 2011 at 07:08
Kritik adalah paramater untuk bertindak…nikmati hidup dengan berbagai kritik
Siti Swandari
12 Oktober 2011 at 22:04
Kritik yang membangun,mendatangkan pembaruan2 disegala bidang.
BOKEP
26 Desember 2011 at 23:24
kalo ga ada yang kritik brarti udah ga ada yang peduli