RSS

Cahaya Kecantikan

14 Sep

shin min ah diarySaya sangat menyukai kata “cantik“. Kata ini paling sering menginspirasi saya setiap kali saya ingin menulis dan berbicara tentang perempuan. Seorang sahabat laki-laki, pernah menyampaikan “wanti-wanti” terkait soal kecantikan.

Diantara kata-katanya, ada sebuah kalimat yang menarik :

Soal kecantikan perempuan. Pesannya dalam bahasa Suroboyoan, “kanggo opo ayu nek iku cuma gawe ayu-ayuan..?” (“…buat apa cantik kalau hanya untuk pamer kecantikan?”)

Bagi “guru” saya itu, cantik tidaklah cantik kalau yang “cantik” tidak berminat memberinya value atau nilai. Sebab cantik tubuh-fisik itu, ia akan pudar dimakan waktu. Cantik hanya akan menjadi makin cantik, dan tak cantik pun bisa mengubah diri menjadi cantik jika kita mau menambahkan sebuah “nilai” ke dalamnya.

Terinspirasi kata-katanya, maka hari ini saya dapat menuliskan sesuatu yang indah (menurut saya).

Perempuan yang bersedia belajar terus menerus, mengisi dirinya dengan ilmu, merendahkan dirinya di bawah luas dan tingginya keilmuan, menyadari bahwa di atas langit masih ada langit, kecantikannya akan terbentuk dengan sendirinya dari waktu ke waktu.

Ketika ilmu dan pengetahuan diterima sebagai sebuah cahaya, maka cahaya itupun akan bergerak bersama dirinya. Cahaya keilmuan dan cahaya pengetahuan, mengikuti setiap gerakan perempuan-perempuan “cantik” yang selalu jatuh cinta pada aktivitas “MEMBERI”, saling berbagi ilmu dan kemanfaatan yang ia tahu, tanpa syarat. Ya! Tanpa syarat.

Dan ketika ini saya up load di blog pribadi saya, seorang sahabat mempertanyakan pernyataan saya,

“Betulkah cantik bersumber dari ilmu dan pengetahuan, bagaimana kalau dia TIDAK MEMILIKI AGAMA?”

Saya terdiam beberapa saat lalu balik bertanya,

“Apakah (sekedar) MEMILIKI agama, itu sudah CUKUP?” dan

“Apakah Berbagai Kitab Suci itu bukan ilmu, bukan pengetahuan dan bukan Cahaya yang harus diserap lalu kemudian dibagi kemanfaatannya?”

Hingga ini selesai ditulis, sahabat saya itu belum hadir lagi untuk mengirim jawabannya.

Yang datang adalah Ma Sang Ji, yang menyodorkan pertanyaan, “Mengapa Mbak Ridha bergabung dengan A Sia Na?”

Salam bahagia.

Tentang Aridha Prassetya

pengarah produksi klub A Sia Na ~ pemerhati masalah sosial, pendidikan dan kepemimpinan ~ blogger Kompasiana sejak September 2010

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2011 in Filsafat, Inspiratif, Percaya

 

Tag: , ,

3 responses to “Cahaya Kecantikan

  1. Ma Sang Ji

    14 September 2011 at 16:55

    Menurut saya, kecantikan yang bercahaya tersebut sejalan dengan makna “Cantik” dan “Anggun” yang dipaparkan dalam halaman About. Dengan demikian, artikel ini sudah menjawab pertanyaan “mengapa bergabung dengan A Sia Na”.

     
  2. noorhanilaksmi

    21 September 2011 at 07:04

    Cantik keseluruhan fisik dan hati….

     
  3. Siti Swandari

    12 Oktober 2011 at 22:19

    Setuju, harus cantik hati dan fisik, itu baru klop.

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s