RSS

Liburan Paling Indah

20 Sep
Liburan Paling Indah

Queen_Latifah_in_Last_Holiday_WallpaperSebuah film berjudul Last Holiday (Liburan Terakhir) menceritakan bagaimana Georgia Byrd (diperankan oleh Queen Latifah), seorang perempuan muda yang menjual semua hartanya memutuskan untuk menikmati dua atau tiga minggu sisa hidupnya di bumi dengan melakukan hal-hal ‘indah’ yang sangat dia inginkan tetapi selalu tertunda.

Dia pergi berlibur (mungkin lebih tepatnya ‘kabur’) ke tempat mahal, menginap di hotel berkelas dan berlaku bak ratu dengan segala kenikmatannya. Alhasil, ternyata hasil medis yang diterimanya itu sebetulnya milik orang lain. Nah, akhirnya hiduplah happily ever after si Georgia itu bersama kekasihnya.

Terus terang apa yang dilakukannya kemudian sempat memengaruhiku untuk melakukan hal yang sama, tentu saja bukan dengan alasan yang sama dan tak perlu se’wah’ Georgia. Kesukaanku jalan-jalan, mencoba makanan-makanan khas daerah tertentu dan bertemu orang-orang baru dengan segala macam pernak-pernik cerita menarik, kupikir merupakan salah satu cara menghargai diri sendiri, menyukuri anugerah kehidupan yang diberikanNya yang tentu saja dapat setiap saat diambilNya pula.

Cerita film itu yang fiksi, yang sesungguhnya di antara sekian banyak pengalaman orang-orang di sekitarku, aku mengenal dua orang istimewa yang keduanya memiliki kisah ‘menjelang kematian’ dengan kehebatannya masing-masing.

Pertama, seorang jurnalis perempuan, yang suatu malam sebelum pergantian milenium meneleponku sambil sesenggukan mengatakan, bahwa dokter yang melihat kondisi fisiknya memvonis kesempatan hidupnya tak sampai limapuluh persen. Pada waktu itu memang aku melihat kondisi fisiknya mengenaskan sekali, berat badannya turun secara periodik sampai banyak teman kami yang melihatnya seperti (maaf) mayat hidup. Tidak tersisa sedikit pun dari bagian tubuhnya yang normal. Satu-satunya kekuatan hanya dari kendali otaknya. Itu pun secara fisik dua sisi (bagian kanan dan kiri) otaknya memiliki jenis virus yang berbeda. Kendali otaknya itu yang membuat semangat untuk hidup sekaligus kepasrahan kepada Sang Khalik pemberi hidup sungguh luar biasa. Singkatnya, sekarang dia masih tetap hidup, berhasil menyelesaikan bukunya mengenai salah satu pengalaman jurnalistiknya di medan perang serta mempersiapkan buku-buku selanjutnya. Perjuangan hidup temanku itu sempat memotivasi bapakku untuk bertahan lebih lama melawan stadium lanjut kanker hatinya, dari yang dokter katakan hanya bisa bertahan sekitar sebulan, beliau bisa bertahan sampai hampir setengah tahun.

Kedua, seorang biarawan yang biasa kusebut saudara kembarku karena tanggal lahir kami yang sama. Pada peralihan milenium sepuluh tahun lalu, ia mengatakan bahwa itu kali pertama seumur hidupnya dia bisa merayakan Natal tidak berada di rumah sakit (walaupun alat suntik komplit beserta jadwalnya tetap menyertai). Itu pun perayaan Natal dengan kondisi alam yang sangat berbeda dari yang pernah dia alami sebelumnya. Waktu itu kami mengikuti misa malam Natal di halaman Basilika St. Petrus, Vatikan dalam suasana alam Desember yang dingin menggigit. Tahun 2004, saudara kembarku itu menjalani operasi jantung, siangnya operasi, sorenya dia masih bisa mencandaiku dengan gayanya yang tidak menampakkan kesakitan apa-apa, “Aku tadi minta balik lagi ke sini soalnya tahu kamu mau kemari.” Aku mengenalnya sebagai manusia luar biasa. Walaupun koleksi penyakit terdapat di sekujur tubuhnya, tidak pernah terdengar keluhannya sama sekali, bahkan setiap kali bertemu suasana selalu segar dengan seloroh-selorohnya. Salah seorang sahabatku yang juga mengenalnya pernah bilang kalau dia merupakan suatu kesaksian hidup dari kebesaran kuasaNya, orang dengan jenis penyakitnya paling bisa bertahan sampai usia 20 tahunan, tetapi sekarang ini usianya sudah hampir setengah abad, masih hidup. Walaupun kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tetapi persaudaraan kami erat sekali. Suatu hari pada tengah malam, ada masa yang bagiku sangat berat, tanpa terduga dia meneleponku dan menanyakan, “Ada kejadian apa, kembar? Aku lihat sekelebat dalam doaku, kamu kelihatan susah betul.”

life-and-death wallpaperSampai sekarang aku belum pernah bisa membayangkan mati itu seperti apa. Para tetua, ibu-bapakku yang sudah mendahului pergi ke alam lain, yang diistilahkan mati, meninggal, tewas, gugur, atau pun modhar, belum pernah ada yang datang lagi kepadaku memberitahu apa dan bagaimana yang sesungguhnya terjadi setelah napas terakhir itu. Jadi singkatnya pula, setiap manusia akhirnya akan sampai pada saat itu, dan tak pernah ada yang tahu kapan ‘napas terakhir’ itu akan tiba. Bisa saja seratus tahun lagi, besok pagi, malam nanti atau bahkan begitu aku selesai membereskan komputer ini. Tidak ada yang tahu.

Lalu Almitra bicara lagi menanyakan, “Bagaimana penjelasan tentang Kematian?”, dan Guru menjelaskan:

Sesungguhnya kau sendiri dapat menyelami rahasia kematian
tapi bagaimana kau akan berhasil menemukan dia,
selama kau tiada mencarinya di pusat jantung kehidupan?

Burung malam yang bermata kelam, dia yang buta terhadap siangnya hari
tiada mungkin membuka tabir rahasia cahaya
pabila kau dengan sesungguh hati ingin menangkap hakekat kematian
bukalah hatimu selebar-lebarnya bagi ujud kehidupan

Sebab kehidupan dan kematian adalah satu
sebagaimana sungai dan lautan adalah satu…

(Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Mencari di pusat jantung kehidupan, membuka hati selebar-lebarnya untuk hal-hal yang pernah kualami atau yang masih sangat ingin kulakukan, aku memaknai kehidupan ‘saat ini’ sebagai saat yang paling berharga, paling indah… karena aku tak tahu dan tak akan pernah ada yang tahu kapan ‘napas terakhir’ itu tiba. Yang perlu kita lakukan hanya bersiap menyambut kedatangannya.

by Tytiek Widyantari

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 20 September 2011 in Cerdas Spiritual, Inspiratif, Kejiwaan

 

Tag: , , , , , ,

3 responses to “Liburan Paling Indah

  1. Ma Sang Ji

    20 September 2011 at 18:16

    “Sebab kehidupan dan kematian adalah satu”

    Inspiratif! Saya sepakat, tak ada kehidupan tanpa kematian, dan tiada kematian tanpa kehidupan.

     
  2. noorhanilaksmi

    21 September 2011 at 12:11

    sempatkah terpikir jangan-jangan kita pernah hidup ntah ribuan tahun lalu kapan…kadang ada peristiwa sepertinya kita pernah mengalaminya … sebuah dejavu…kita memang misteri dalam kehidupan dan kematian…

     
  3. Siti Swandari

    12 Oktober 2011 at 21:40

    Tidak penting bagaimana cara kita menjalani kematian. yang penting bagaimana cara kita menjalani kehidupan ini.

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s