RSS
Galeri

Salam Bahagia

20 Sep
Salam Bahagia

“Ibu yang berlimpah kasih, mengapa ibu selalu mengucapkan ‘salam bahagia’ pada setiap akhir tulisan ibu? Bisakah saya mendapat pencerahan akan maknanya? Dan bisakah kita diskusi soal iman yang ibu katakan sebagai “pencarian kedalam”, seperti yang ibu tulis di sana?” semoga ibu senantiasa dilimpahi kasihNya!”

Pesan menarik ini datang dari seorang sahabat asal Tanah Toraja. Saya belum pernah berjumpa dan kenal sebelumnya. Yang saya tahu, itu pertama kali dia menyapa saya dan meninggalkan pesan melalui in box saya.

Ada kebahagiaan lain yang mendorong saya untuk menuliskan judul indah ini. Universalitas. Sebuah paradigma yang terus menerus menginspirasi saya  agar meluaskan “bacaan”. Apalagi selain berucap syukur?

Tuhan mengerti saya dengan sangat baik. DIA anugerahkan kawan-kawan yang baik melingkupi kehidupan saya. “Bertemu” banyak sahabat penulis dalam sebuah komunitas yang bahkan hingga hari ini pun, saya belum pernah menatap wajah-wajah mereka. Tetapi hebatnya, mereka semua, baik dan menyenangkan. Alangkah bahagianya jika di pagi membuka in box, lalu disana mendapati pesan, “mana judul barunya?”, atau “mana tulisannya kok sudah lama tidak muncul?”, “mana komennya di lapak saya?”

Betapa bahagianya, jika setiap mata ini terbuka, mendapati kabar bahwa ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita lakukan, ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita ucapkan, ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita tuliskan, ada yang berharap uluran hati, tangan dan fikiran untuk sebuah pencerahan terkait dengan persoalan kehidupan. Rasanya, diri ini menjadi betul-betul berguna. Apa yang dapat membahagiakan diri selain dari jika diri ini berguna bagi orang lain?

Membaca pesan sahabat baru itu, saya tidak pernah berfikir bahwa ‘salam bahagia’ kesukaan saya itu akhirnya menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan dan menjadi sesuatu yang hangat untuk dibicarakan. Dan ketika saya menulis ini, pembicaraan hangat kami soal ‘mengelola perbedaan’ (dalam relevansinya dengan agama/kepercayaan), belum selesai. Tetapi kami sepakat bahwa perbedaan jika dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang luar biasa indah.

salam bahagia

Dia terlahir Kristen dan saya terlahir Islam.

Mungkin dia terusik dengan bahasa dan cara “bicara tulis” saya, sehingga merasa harus mendiskusikan ‘iman’ kami. Saya bilang kepadanya, bahwa:

  • Saya sangat yakin, bukan tidak punya maksud, selama tiga tahun  Tuhan pernah mengirim saya belajar berdampingan dengan mereka kaum Katholik.
  • Saya sangat yakin, bukan tanpa maksud, beberapa kali di toko buku, Tuhan menggerakkan mata saya untuk melirik dan membawa pulang naskah buku-buku hebat yang mengajari saya bagaimana menjadi perempuan yang dicintai Tuhan, sedang penulisnya adalah perempuan Kristen.
  • Saya sangat yakin, bukan tanpa maksud, Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan ta’at dengan Tuhannya yang ia sebut dengan Thien dan mengabdi kepada Gong Cu (Confucious/Konfusius), yang ia akui sebagai nabi yang harus dijunjung tinggi dalam setiap do’anya. Terhadap apa yang dia lakukan, dia bahkan dianggap “gila” oleh banyak orang, demikian pengakuannya kepada saya. Ia penganut berat Kong Hu Cu.

Dan saya ceritakan kepada kawan saya itu, batasan sebatas apa yang saya pahami dalam iman Islam saya, tentang sebuah kata dalam sebuah ayat yang berbunyi “iqra’”, yang maknanya adalah “Bacalah”. Saya hanya berusaha “membaca” (memahami) apa yang ada di sekitar saya, sesuai yang diperintahkanNYA. Lalu mengerti apa yang kemudian harus saya lakukan. Itu saja.

Saya rasa, tidak ada yang saya lukai soal ini, baik orang lain, apalagi diri saya sendiri. Kami memang tidak pernah berniat saling melukai dan berfikir untuk perlu saling melukai. Betapapun saya bergaul dalam keragaman dan perbedaan itu, saya tetap Islam. Saya tak pernah mengganti agama saya hingga hari ini sejak saya dilahirkan.

Tidak terasa bahwa semua yang ada di sekitar saya menjadi sumber kebahagiaan. Tetapi jauh lebih dari itu, sumber dari segala sumber kebahagiaan itu ada di sini, di dalam diri saya. Saya tiba-tiba saja merasa mencintai, tergerak untuk selalu bisa mengasihi, sekaligus merasakan keadaan batin dimana saya dicintai dan dikasihi oleh begitu banyak orang. Hidup saya dikelilingi oleh orang-orang yang penuh cinta dan harapan. Ini adalah anugerah terindah dalam hidup saya. Sungguh, penuh keajaiban, jika kita mampu mendalami kehidupan dengan cara yang indah, dan mengerti ‘cara bermain’. Sebab, hidup ternyata adalah sebuah permainan.

Hidup adalah sebuah permainan. Bermain dalam ruang-ruang kelas pembelajaran yang maha luas.  Orang menamakan ini sebagai Universitas Kehidupan. Tempat pembelajaran yang maha luas dan bebas. Bermain disana dengan banyak kawan yang kadangkala terlihat seperti “musuh”. Dan permaian-permainan itu akan berujung pada suatu keadaan, dimana para pemenangnya akan “tahu jalan pulang”. Anda tahu yang saya maksud dengan jalan pulang, kan?

Saya katakan kepada sahabat saya yang dari Tanah Toraja itu, “Bung…, saya ini seperti burung dara saja, yang diletakkan Tuhan di dunia ini, kemudian dilihat bagaimana cara terbang saya dari jauh, seolah-olah Tuhan tidak lagi melihat saya,DIA jauh dari saya. Tetapi satu hal yang saya tahu pasti dan yakin adalah bahwa, Tuhan selalu menanti saya ‘kembali’.  Tuhan pasti berharap, saya, yang pernah DIA lepas itu akan tahu “jalan pulang”. Saya, burung dara yang pernah DIA ajarkan terbang jauh itu, harus menemukan jalan kembali dan pulang kepadaNYA, dalam keadaan baik-baik saja. “Tidak terluka, apalagi cacat.”

Salam bahagia (**ini hanyalah sebagian kecil tulisan yg tengah disiapkan untuk my next book, Jangan Jadi Perempuan Rapuh**)

Tentang Aridha Prassetya

pengarah produksi klub A Sia Na ~ pemerhati masalah sosial, pendidikan dan kepemimpinan ~ blogger Kompasiana sejak September 2010

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 20 September 2011 in Agama, Inspiratif, Universal

 

Tag:

10 responses to “Salam Bahagia

  1. Ma Sang Ji

    20 September 2011 at 18:20

    “Terhadap apa yang dia lakukan, dia bahkan dianggap “gila” oleh banyak orang, demikian pengakuannya kepada saya. Ia penganut berat Kong Hu Cu.”

    Apa aja sih, mbak, yang dia lakuin sampe dianggap “gila”?

     
    • aridhaprassetya

      20 Oktober 2011 at 18:20

      Setiap hendak melakukan sesuatu, saya ulangi setiap dia hendak melakukan sesuatu, ia selalu ‘sembahyang’ depan altar. Ia selalu meminta petunjuk Nabi_nya. Ia sangat mencintai Nabi Gong Cu (Konfusius).

      Jika sesuatu itu untuk dirinya sendiri dia tidak dalam masalah, tetapi jika sesuatu itu dilakukan untuk orang lain, ia cenderung dibilang “gila”, sebab ia selalu mengatakan “atas petunjuk beliaunya Nabi Gong Cu”.

      Dia selalu percaya diri bahwa apa yang dilakukan adalah sudah dikonsultasikan dengan Nabinya. Bahkan pilihan warna rumah, pilihan warna perabot seperti kulkas dll, pilihan ikan dan apapun yang dikonsumsinya semuanya atas petunjuk “beliau”nya. Dia memgang teguh agama nenek moyangnya, agama ayah ibunya, sementara seluruh kakak adiknya telah mengganti agama mereka.

      Itu Sang Ji yang dilakukan dia.

       
  2. noorhanilaksmi

    21 September 2011 at 06:56

    Setiap orang akan mengikuti kata hati dan takdirnya…

     
  3. Five__

    21 September 2011 at 13:01

    Entah mengapa, saya juga selalu terinspirasi dengan si pemilik ” salam bahagia” itu. kata2 beliau selalu memberikan semangat untuk terus menjadi yg terbaik.
    melihat cara kerja asiana dalam memberikan bacaan2 yang bermutu, saya percaya misi itu akan tercapai..keep ur fighting spirit.

     
    • aridhaprassetya

      20 Oktober 2011 at 18:22

      Dear Five,

      Terima kasih jika demikian keadaannya.
      Salam bahagia dan penuh karya!

       
  4. Siti Swandari

    12 Oktober 2011 at 22:41

    Bahadia ?, rasanya ada dalam hati setelah melalui berbagai tantangan didunia.

     
  5. Wirol Haurissa

    15 Desember 2011 at 18:13

    saya tertarik dengan kalimat ini :
    Dan saya ceritakan kepada kawan saya itu, batasan sebatas apa yang saya pahami dalam iman Islam saya, tentang sebuah kata dalam sebuah ayat yang berbunyi “iqra’”, yang maknanya adalah “Bacalah”. Saya hanya berusaha “membaca” (memahami) apa yang ada di sekitar saya, sesuai yang diperintahkanNYA. Lalu mengerti apa yang kemudian harus saya lakukan. Itu saja.

    saya berbada dengan anda
    tujuan kami beda
    kepercayaan kami beda
    tradisi dan kelahiran kami beda
    namun satu hal yang sama
    kami tak perna tahu apakah nanti kita berjumpa setelah menjadi debu.
    dan masa depan kami di akhir hidup.
    kami tidak perna memikirkan hal itu
    namun kamu tetap tahu tentang saling memahami
    maka kami perjumpaan itu akan ada di lain waktu.

     
    • Wirol Haurissa

      15 Desember 2011 at 18:25

      saya tertarik dengan kalimat ini :
      Dan saya ceritakan kepada kawan saya itu, batasan sebatas apa yang saya pahami dalam iman Islam saya, tentang sebuah kata dalam sebuah ayat yang berbunyi “iqra’”, yang maknanya adalah “Bacalah”. Saya hanya berusaha “membaca” (memahami) apa yang ada di sekitar saya, sesuai yang diperintahkanNYA. Lalu mengerti apa yang kemudian harus saya lakukan. Itu saja.

      Saya berbeda dengan anda
      tujuan kami beda
      kepercayaan kami beda
      tradisi dan kelahiran kami beda
      namun satu hal yang sama
      kami tak perna tahu apakah nanti kita berjumpa setelah menjadi debu.
      dan masa depan kami di akhir hidup.
      kami tidak perna memikirkan hal itu
      namun kamu tetap tahu tentang saling memahami
      dan mengajarkan kami “perjumpaan itu akan ada di lain waktu.”

       

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s