RSS

Cernak: Dinda Tidak Bodoh!

21 Sep
Cernak: Dinda Tidak Bodoh!

gadis kecil sedang membaca buku dengan memakai kacamata pinkBeberapa hari ini nilai-nilai Dinda selalu di bawah angka enam. Padahal, sebelumnya Dinda selalu memperoleh nilai di atas angka delapan. Bunda Fitri heran dengan merosotnya nilai Dinda.

“Dinda, apakah kamu ada masalah, Nak?” Bunda Fitri menanyakan apa yang mungkin terjadi dengan putri kesayangannya.

“Tidak, Bunda. Dinda tidak kenapa-kenapa. Hanya saja Dinda memang kurang konsentrasi.”

Beberapa kali Bunda Fitri menanyakan, Dinda selalu menjawab tidak ada masalah dengan dirinya. Bunda Fitri hanya bisa bersabar dan tetap mencari tahu mengapa nilai putri kesayangannya turun.

Dinda sebenarnya sudah bisa memahami materi apa yang akan menjadi ulangan di kelasnya. Tetapi berkali Dinda mencoba membaca, tulisan yang ada menjadi buram. Dinda pun semakin kesulitan bila dia pas kebagian duduk di agak belakang dan samping papan tulis. Dinda hanya bisa meraba soal yang tertulis dan menjawab dengan ragu-ragu setiap pertanyaan yang ada tercatat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan matanya.

“Aduh! Kenapa jadi tulisan buram semua, ya? Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Jangan-jangan mataku sakit. Aduh, bagaimana ini?” Dinda merasa ketakutan sendiri.

Rasa resah menggelayuti pikirannya sepanjang pelajaran sekolah. “Dinda, coba kamu jawab pertanyaan nomor 11.” Tiba-tiba suara Bu Guru Ani mengejutkan lamunannya.

Dinda terkaget-kaget. Kembali dia hanya melihat sekumpulan semut putih yang berbaris. Tulisan di papan tulis benar-benar menjadi kabur, kadang nampak menjadi dua tulisan yang bertumpuk.

Dinda mulai membaca dengan gemetar ” Z aaat h h hijjjau daaaun padaa tangaan…”

“Haaahaaahaaa, haaahaaahaaa…huuu.” Suara murid-murid kelas 3 B menertawakan Dinda yang tergagap-gagap membaca dan salah.

“Ah, Dinda malu-maluin kelas kita, nih!” Seru Dodo yang memang suka usil di kelas.

“Dinda ternyata nggak bisa baca! Anak bodoh” Seru Dodi yang kembaran Dodo, yang sama usil dengan kembar identiknya.

“Dinda, ayo teruskan nomor 11.” Bu Ani agak keras, tapi juga agak curiga karena Dinda mengernyitkan matanya dan kebingungan.

Dinda malu dan berlari ke luar kelas. Matanya terasa panas. Air mata mengalir perlahan. Kesal dan malu dibilang anak bodoh oleh si kembar Dodo-Dodi.

Di taman sekolah, Dinda duduk menenangkan hatinya.

“Dinda, kamu sakit?” Tiba-tiba Bu Guru Ani sudah ada di sampingnya.

Dinda menggelengkan kepala, “Pasti Bu Guru Ani akan menanyakan hal yang sama seperi Bunda.” bisik hati Adinda.

“Ibu tahu, kamu bukan anak bodoh. Nilai kamu merosot hampir 2 minggu ke belakang, dan tadi Ibu memperhatikan setiap gerak-gerik kamu. Saat ulangan dan saat pelajaran Ibu. Sepertinya kamu ada masalah dengan penglihatan ya?” Selidik bu guru Ani.

Adinda tidak bisa membohongi apa yang barusan Bu Guru Ani katakan, karena memang bu guru Ani tahu persis gerak-geriknya di kelas.

“Sudah hampir 2-3 minggu ini mata saya menjadi sangat buram, Bu Guru. Tapi saya takut bila harus ke dokter dan memakai kacamata seperti orang tua.”

“Dinda, akan lebih parah bila kamu tidak mau berterus terang ke orang tua kamu akan kondisi kamu yang sebenarnya. Kamu bisa tidak naik kelas kalau membiarkan hal ini.” Nasehat bu guru Ani.

“Apa yang kamu takutkan sebenarnya hanya ketakutan sesaat. Dengan berkaca mata, itu bukan berarti kamu anak cacat, kok! Itu juga bukan berarti kamu seperti orang yang sudah tua, Sayang. Itu hanya proses yang terjadi pada diri kita.”

“Maksud Bu Guru?”

“Dinda harus bilang ke Bunda, dan Bunda akan antar kamu ke optik untuk diperiksa. Percayalah, itu tidak sakit. Bila memang perlu memakai kaca mata, pasti Bunda akan memilihkan yang pas buat kamu, biar tetap cantik.” Panjang lebar Bu Guru Ani menerangkan.

“Tapi Bu Guru, nanti aku diejek-ejek jadi si ‘Bolooor’.” Dinda teringat sepupunya yang pakai kaca mata yang tebal sekali, lalu dipanggil si ‘Bolooor’. Duh, nama yang nggak keren sama sekali di telinganya, apalagi sampai melekat menjadi ‘Dinda Si Bolor’.

“Dinda, siapa yang berani ngejek-ngejek nanti Ibu Guru nasehati. Ibu rasa kamu tidak akan jadi ‘Si Bolor’ asal kamu dengar saran dokter agar lebih menjaga kesehatan mata.” Kata bu Ani yang ikutan geli dengan sebutan Si Bolor barusan terlontar dari Dinda.

Sesampainya di rumah, Dinda menyerahkan surat dari bu guru Ani buat bundanya, dan “Ya ampun Dinda, ternyata selama ini kamu ada masalah dengan penglihatan. Kenapa setiap Bunda tanya kamu tidak berterus terang ?”

“Hmmm benar kamu takut dijuliki ‘Si Bolor’, seperti kata bu guru Ani?” tanya Bunda Fitri lanjut.

Dinda mengangguk.

“Dinda, Dinda… ayo tidur siang. Nanti sore kita ke optik.”

Hari Senin yang cerah, Dinda sudah memakai kaca mata dan sekarang tidak lagi kesulitan membaca tulisan yang ada di papan tulis. Tidak ada lagi sekumpulan semut putih, juga tulisan dobel membayang. Teman-teman kelasnya pun semua memaklumi. Tidak ada panggilan Si Bolor juga. Ternyata cek kesehatan mata juga tidak sengeri bayangan Dinda sebelumnya.***

*Ilustrasi: Google.com

by Noorhani Laksmi

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 21 September 2011 in Bacaan Anak, Cerita / Dongeng, Mendidik

 

Tag: , ,

7 responses to “Cernak: Dinda Tidak Bodoh!

  1. Ma Sang Ji

    21 September 2011 at 12:57

    Pakai kacamata malah terlihat lebih cantik, lebih keren!

     
  2. noorhanilaksmi

    22 September 2011 at 17:19

    hahaha gitu ya Mbak Ma…gimana Mbak Ma berkaca mata ? pasti tambah cantik…

     
    • Ma Sang Ji

      23 September 2011 at 01:47

      belum punya uang buat beli kacamata,
      masih nunggu royalti dari buku kita kelak;
      makanya, yuk kita segera mulai….

       
      • noorhanilaksmi

        23 September 2011 at 07:17

        Baiklah So We Start to Begin…Have A Great Day!

         
  3. aridhaprassetya

    23 September 2011 at 06:07

    Salam buat Dinda mbak Noor,
    Di sini juga ada beberapa Dinda..he..he..

    keep spirit !

     
    • noorhanilaksmi

      23 September 2011 at 07:18

      Siap Dinda Aridha yang cantik🙂 Have A Good Day …

       
  4. Siti Swandari

    13 Oktober 2011 at 23:56

    Ikutan nimbrung aja deh.

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s