RSS

5 Keanehan Teror Bom di Solo

26 Sep

Saya mencatat, sekurang-kurangnya ada 5 keanehan dari Berita terheboh saat ini: Sebuah bom meledak di pintu masuk gereja Bethel, Kepunton, Solo pada hari Ahad, 25 September 2011, sekitar pukul 11 siang. Kejadian ini diduga merupakan aksi bunuh-diri seorang teroris. Keanehan kasus kemanusiaan yang mencederai hukum & keadilan ini meliputi:

Pelaku bom bunuh diri di gereja Bethel - Solo - 25 September 20111. Wajah pelaku yang diduga pelaku bom bunuh diri masih utuh dan bisa dikenali, walau dada ke bawah hancur. Apakah si pelaku (dan jaringannya) sengaja ingin dikenali?

2. Bom itu meledak mungkin “tidak tepat pada waktunya”, yaitu bukan pada saat paling ramai. Apakah targetnya bukan menewaskan sebanyak-banyaknya orang?

3. Tidak ada isu apa-apa sebelumnya di Solo. Tahu-tahu ada bom. Yang ada, justru isu-isu politik yang memanas di ibukota, Jakarta. Adakah keterkaitan antara aksi-aksi teror seperti itu dan pertikaian para elit politik di ibukota?

4. Kota Solo adalah barometer kebudayaan dan harmoni. (Di kota ini jugalah terdapat gereja yang letaknya berdampingan dengan masjid, yaitu di kelurahan Kratonan.) Kalau Solo bobol, apakah teror semacam ini akan merembet ke daerah lain?

5. Menurut Menko Polkam Djoko Suyanto, upaya polisi dan militer untuk memutus jaringan dan pergerakan teroris semacam mereka itu tidak mudah dilakukan. “Dulu mereka memakai alat komunikasi yang bisa kita jejaki, tapi perkembangannya kemudian, mereka tidak lagi memakai alat komunikasi seperti itu dan hal ini juga menyulitkan kami,” katanya. Jadi, di negara kita ini, teroris berhasil mengalahkan pemerintah?

dirangkum oleh Ma Sang Ji

 
 

Tag: , , ,

29 responses to “5 Keanehan Teror Bom di Solo

  1. M. Arief B. Ariefmas

    26 September 2011 at 07:49

    Karena sudah terjadi, semoga tidak merembet.

    Salam damai Indonesia.

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 08:02

      mas Arief, di Gunungkidul belum pernah ada kasus teror bom, ya?

      salam damai

       
      • M. Arief B. Ariefmas

        26 September 2011 at 11:01

        Kalo teror bom, belum pernah dan jangan pernah
        Tapi kalo bom di puslatpur ya biasa. Cuma wilayahnya ditutup. Kalo mau ke ibukota kabupaten, jalan muter.

        Stop bom boman. Tapi sah-sah saja pake bom, asal bom judul artikel🙂

         
  2. RT Goes Patah

    26 September 2011 at 09:14

    melihat usus usus yang terburai dan darah yang berceceran…. ooohhh sungguh mengerikan… koh ya ada , manusia indon yang gobloknya seperti ini…. sungguh menyedihkan….

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 09:24

      Iya, gambarnya memang mengerikan. Saya pun nggak tahan melihatnya.

       
  3. kibas ilalang

    26 September 2011 at 10:52

    Salam,
    Analisis yang menarik, hanya saja kalau boleh saran. Apa tidak sebaiknya gambar korban (yang diduga pelaku-so far) ditampilkan blur atau sedikit disembunyikan kengeriannya. Terlalu vulgar fotonya. Kalau kontennya sih ok sebagai upaya menggelitik kita semua untuk berpikir..#DamaiNegeriku

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 14:23

      Iya, mengerikan. Saya sempat hendak mengganti gambarnya, tapi kemudian memutuskan memperkecil tampilannya dalam bentuk thumbnail. Tidak seperti gambar lain yang tampak lebih besar.

       
  4. Indra

    26 September 2011 at 12:01

    Ikutan tante,
    Warisan tempo dulu sebenarnya. Para politisi pandai “menggoreng” apapun sesuai dengan keinginan mereka. Kalau dulu karena banyak rakyat yang masih bodoh. kalau sekarang mixed antara yang masih bodoh dengan yang sok pintar.
    Dengan kondisi perekonomian yang cukup aman, tentulah akan membuat iri negara lain. permasalahan akan timbul jika mereka ikut menggoreng, karena kita tidak tahu seberapa banyak yang digoreng dan seberapa panas minyaknya ?
    Kota² yang dipilih seperti Poso, Ambon, Solo, adalah kota yang secara demografi memiliki perimbangan agama. Dengan sedikit bahan bakar akan mudah terbakar.
    Ironis memang, karena dahulu, kota seperti itulah yang enak untuk ditinggali, begitu harmonis dalam perbedaan. kalau sekarang hidup seperti pasang kuda-kuda. Selalu tegang, penuh curiga dan bersumbu pendek.
    Terimakasih boleh ikutan tante

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 14:25

      Sungguh memprihatinkan kalau itu memang bagian dari “goreng-menggoreng”.😦

       
  5. Suta Umrah

    26 September 2011 at 12:10

    Luar biasa! SP bukan hanya melihat beritanya, namun tampilan blog-nya cantik merantik.

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 14:26

      makasih atas pujiannya, pak SP🙂

       
  6. eggagloria

    26 September 2011 at 12:16

    koq fotonya gag disensor gt?? mengerikan..

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 14:28

      Saya membayangkan perasaan para korban dan keluarga mereka. Mungkin mereka merasa lebih ngeri, ya?😦

       
  7. ammar

    26 September 2011 at 14:29

    kita semua harus hati-hati dalam menyikapi kejadian di Solo kemarin, analisa MSJ sdh bagus, poin no.4 betul itu adalah salah satu bentuk toleransi, tapi untuk poin no.3 itu di Solo bukannya tidak ada apa-apa, di Solo kalangan islamnya sangat heterogen (ada Muhammadiyah, NU, Salafi dan beberapa kelompok islam lainnya), plus saat ini Solo dipimpin oleh walikota yg tegas dan merakyat bahkan berani menentang keputusan atasannya (gubernur), dalam kejadian ada banyak faktor yang saling berkepentingan dalam skala daerah, nasional maupun global.
    dan faktor utamanya adalah “kebodohan” pelaku dalam mencerna ajaran islam, sehingga tanpa disadari pelaku dimanfaatkan untuk kepentingan sesuatu yang lebih besar.

     
    • Ma Sang Ji

      26 September 2011 at 14:52

      Terima kasih atas tambahan informasinya.

      Iya, di Solo bukan tidak ada apa-apa. Umat beragama sangat heterogen, tetapi toleransi terjalin dengan baik. Perbedaan mereka tak pernah jadi isu.

      Saya juga menyayangkan, mengapa ada orang yang mau “dimanfaatkan untuk kepentingan sesuatu yang lebih besar”.

       
  8. skodong

    26 September 2011 at 18:29

    betul, banyak sekali ke anehan. mungkin Ma Sang Ji mencoba sendiri deh, jd bisa merasakan pengalaman yg di alami si teroris, adrenalin nya, ketegangannya, dll tapi jangan ngebom gereja yah, ngebom mesjid aja xixixixi…jd gantian nanti saya yg akan bikin analisa 5 keanehan bom Ma Sang Ji..🙂

     
    • A Sia Na

      26 September 2011 at 18:49

      Bom ala Ma Sang Ji, menurut Ariefmas dalam komentar di atas, adalah bom judul.
      Apa saja anehnya?😉

       
  9. skodong

    26 September 2011 at 18:33

    Saya tambahkan ke anehan yang ke 6 : Jihad koq pake bom….?? paling aneh tuh🙂

     
  10. Five__

    26 September 2011 at 21:12

    Mba..seharusnya picnya di blur donk, saya ga tau, apakah ini menyalahi ketentuan dalam jurnalisme or ngga, tapi menurut saya tidak etis mba menampilkan gambar seperti itu, mohon dikoreksi lagi.

     
    • A Sia Na

      26 September 2011 at 22:21

      Okelah. Tuh, gambarnya sudah kami ganti dengan yang di blur.

       
  11. Datin Purnama

    27 September 2011 at 07:08

    Bukan teroris mengalahkan pemerintah melainkan pemerintah memelihara teroris, dan sebagaimana halnya barang piaraan bisa ditarik ulur.

     
  12. aunurrafiq

    28 September 2011 at 06:10

    Tidak salah kalau Ma Sang Ji saya angkat sebagai maha guru, artikel di atas menjadi suatu bukti, betapa tajam analisa guru, benar-benar penulis langka, cuma saya tak suka komentar skodong yg menyuruh guru bunuh diri dgn membom masjid, jgn2 dia teroris selama ini yang suka mencuci otak orang agar melakukan tindakan kejahatan atas nama agama. (tak rela lah saya, kalau guru mati)

    Satu lagi komentar dari Datin Purnama yang mungkin bisa jadi tambahan, tapi bukan menjadi keanehan ke 6, yaitu dugaan bahwa ada pihak berkuasa di negeri ini yang sengaja memelihara dalam tanda kutip pelaku-pelaku teror tsb, mengingat anggaran yang cukup besar untuk penanggulangan teroris, hal ini pun pernah diungkapkan seseorang yang mengaku BIN (baca: belum dapat dipastikan keabsahannya), bahwa aksi-aksi tsb sengaja dipelihara agar anggaran pengendalian teroris yang cukup menggiurkan itu tetap ada.

     
  13. abukemal

    30 September 2011 at 14:05

    salamat siang sadayana,
    senang abdi tiasa asub dimari.
    euleuh, postingan mning bageur teuing eh, siga tulisan pakar intelejen tea,
    bener, analisa yang tajam jam jam jam.
    abdi teh jadi kawatir lamun nuk dianalisa teh beuneur kitu,
    rek jadi naon nagara ieu teh nya.
    bahwa tiap isu politik mulai memanas, dubelokan ku “BOOOOOOm”,
    siga nu kamari nya,
    isue century, . . . . . . . aya bom mak erot, eh jw mariot
    isue naon deuy, . . . .aya bom cirebon
    isue naon panas2 di”atas” aya bom solo
    rusak

    vote ciamik

     
    • Ma Sang Ji

      30 September 2011 at 14:44

      selamat siang
      terima kasih atas pujiannya Kang!

       
    • ciburuan

      9 Oktober 2011 at 09:27

      kalo begitu mah, seperti jaman orde baru lagi ya.

      Dulu, jka ada yang menentang pemerintah, maka akan main tangkap. Lah sekarang jika ada yang maun mencongkel pemerintah, siap-siap bom meledak.

      Aduh begimana ini teh?

       
  14. Ign. Christian Pr. (@Igaztama)

    5 Oktober 2011 at 18:53

    klo nge-bom ya mbok jgn Gereja tho, ap lagi mpe bunuh diri sgala. Mbok2 skali2 yg d bom tu

    gedung2 pemerintah yg jd ‘sarang tikus’ it lho. Low explosive aj. Mbok y peka dikit ma negaramu

    ini. Negara kita ni bkn Israel at0 Amerika yg halangin hak orang lain merdeka.

     
  15. Singgih Swasono

    5 Oktober 2011 at 23:55

    Itulah Indonesia Raya………

     
  16. Siti Swandari

    8 Oktober 2011 at 10:18

    Komentar apa ya, semua sudah komplit. Damai saja bangsaku, pererat tali persatuan bangsa seperti dulu waktu menghadapi Belanda.

     
  17. awitara

    11 Oktober 2011 at 07:46

    Apakah targetnya bukan menewaskan sebanyak-banyaknya orang?

    Pandangan saya : Itu hanyalah bagian dari stategi Teoris. Banyaknya oknum teoris yang tertangkap, bukan berarti membuat surut atau lemahnya kemampuan para aksi teror untuk melancarkan serangannya. Mereka tetap konsisten untuk menjaga “suhu”, bahwa mereka masih eksis dan siap menghancurkan NKRI,. Dengan visi untuk mengubah ideologi negeri ini yang dicap KAFIR.

    Aksi bom bunuh diri , memang kelihatannya konyol. Namun kekonyolan itu bukan berarti tanpa hasil, karena tujuan teroris adalah untuk menciptakan rasa was-was, ketakutan yang mendalam dan bisa menghegemoni keadaan dengan negara yang terjangkit aksi teror.

    untuk itu, sebagai warga negara tentunya itu bukan pekerjaan rumah pemerintah semata. Ini adalah tanggung jawab kita semua. Ketika Keamanan menjadi sesuatu hal yang langka dan mahal. Namun, dengan rasa dan persaudaraan kita, memandang bahwa NKRI tentap harus ada dan membumi hingga turunan selanjutnya.

    Maka untuk itu, kepekaan sosial, respon yang tinggi terhadap lingkungan harus tercipta, karena sewaaktu-waktu para teroris datang tanpa di undang kemudian melakukan aksi yang dianggapnya benar: Boim Bunuh diri. Tragis!

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s