RSS

Trauma Korban Politik 1965

30 Sep
Trauma Korban Politik 1965

Ini zaman peralihan 1966, dari pemerintahan Orde Lama ke pemerintahan Orde Baru. Belum lama rasanya kami menyaksikan kerusuhan dan demonstrasi di mana-mana. Semua anak sekolah berbaur dengan masyarakat tumpah-ruah, turun ke alun-alun, ada bakar-bakaran patung kertas para tokoh rezim Orde Lama.

Sebelumnya selama dua tahun Bapak ditugaskan ke hutan-hutan Sulawesi, konon, untuk mengantisipasi kekacauan yang digerakkan oleh Kahar Muzakar. Selama ditinggalkan kepala keluarga kehidupan kami sangat nelangsa. Kekurangan makanan dan pakaian, ditambah tekanan yang dilakukan oleh komunis terhadap keluarga tentara, sungguh menyiksa kami.

“Kenapa kita cuma makan ini, Mak?” protesku apabila ibuku hanya bisa menghidangkan gaplek atau nasi campur bulgur yang rasanya tak karuan itu.

“Kita tidak punya nasi, tidak punya gula, tidak ada terigu… Tidak punya apa-apa selain ini, Nak,” jawab ibuku sambil menahan tangisnya.

Agaknya mereka, entah siapapun itu, memang telah mengatur segalanya, termasuk menjauhkan para prajurit kami dari keluarga dan rakyatnya. Sehingga selama dua tahun kami tak bisa melihat sosok ayah, tak pernah mendengar tegur-sapa, dan merasai belai kasih sayangnya. Ibuku mengambl alih kedudukan sebagai kepala keluarga, sebagai ibu sekaligus ayah bagi kami.

Kukenang masa-masa itu sebagai suatu kekejian politik yang sama sekali tak bisa kami pahami. Dalam pergaulan anak-anak pun, mereka memanfaatkan anak-anak untuk menjahili kami. Samar-samar masih kukenang, suatu hari kakakku pulang dalam keadaan berdarah dengan luka menganga di kakinya.

“Si Iyen menjorokkanku ke empang!” erangnya. “Kami berebut naik perahu, kakiku sobek kena batu runcing…” jelasnya di sela-sela kesibukan ibu kami membersihkan dan mengobati luka-lukanya itu.

Trauma Korban Politik 1965“Iyen… tapi kenapa?” kejarku penasaran.

“Karena kita anak tentara, cucu Ajengan…”

Ah, padahal saat itu kakek kami telah lama meninggal!

“Oooh… tapi kenapa Iyen jahat begitu?”

“Karena dia anak PKI. Mereka benci sama kita…”

“Mm… begitu ya…” aku berlagak memahami perkataannya, sebelum dia meracau tentang PKI dan lainnya. Aku berpikir, kakakku sudah lebih paham tinimbang diriku yang masih sangat naif tentang urusan orang dewasa.

Karena penyakit bawaannya, kelainan darah, luka itu sampai berbulan-bulan sulit sembuh, dan sangat menyiksanya. Peristiwa itu membekaskan trauma dalam jiwa kakakku di kemudian hari. Ada beberapa karyanya yang menyuarakan antikomunisme.

by Pipiet Senja

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2011 in Aktual, Kemanusiaan, Kenegaraan, Politik, Sejarah & Peradaban

 

Tag: , ,

8 responses to “Trauma Korban Politik 1965

  1. Adelino Pereira

    30 September 2011 at 08:44

    Pipiet…!!! Tragis juga yah……saat2 sulit gitu kita di tingalin ama bapak demi tugas,
    tapi saya bangga dgn ibu loh,demi cintanya pada keluarga beliau tetap tegar dan siap menjadi Bapak sekaligus Ibu buat sang buah hati.sekali lagi saya sangat terharu dengan artikel mu.thank’s

     
    • Ma Sang Ji

      30 September 2011 at 09:59

      Sama, saya juga sangat terharu.

       
  2. Acan

    30 September 2011 at 16:14

    Tulisan yg wajib di baca oleh para Politisi,Penguasa dan koruptor.

     
  3. den mas ukik

    3 Oktober 2011 at 12:13

    Tak ada ORDE LAMA! ORDE LAMA hanya sebutan oleh PENGUASA MILITER SAAT ITU!

     
    • Ma Sang Ji

      3 Oktober 2011 at 16:40

      Semua nama orde memang berasal dari sebutan. Begitulah fakta sejarah.

       
  4. Robin

    5 Oktober 2011 at 19:06

    itulah suatu doktrin, yang keliru. dimana seorang akan mengatakan dia anak tentara lantas harus di olok2 atau entah apa karena musuh PKI. begitu juga sekarang Dia anak PKI, lantas selalu disudutkan karena orang tuanya kakeknya, atau mungkin ssaudaranya sebagi anggota PKI. Apakah itu yang kita harapkan sebagai bangsa yang toleran dan pluralis?mungkin kita harus memberikan bimbingan kepada Anak cucu kita tentang sejarah dan bagaimana menyikapinya

     
  5. Siti Swandari

    8 Oktober 2011 at 09:48

    Saya agak lupa2 ingat, sudah lama banget sih. Tetapi keadaannya mencekam, jangan ada begituan lagi ah, giris.

     
  6. Pyan Sopyan Solehudin

    6 Januari 2012 at 22:39

    lingkaran sejarah berkata: dulu ia tertindas, sekarang ia balik menghancurkan untuk menindas…tdak PKI, tdk Masyumi, atau NU dan Muhammadiyah, atau kita semua memberi andil pada penindasan..kata Sang Atheis kelahiran Pakistan, Tariq Ali “Benturan Antar Fundamentalis”-lah yang menyebabkan semuanya.. kata Karen Armstrong, pemahaman ke-tuhan-an yang personal, bukan impersonal yang membawa manusia pada Fundamentalis, kalau tidak Atheis…

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s