RSS

Mengelola Kesepian

03 Okt

Adalah Ma Sang Ji, seorang (atau seekor?) perawan siluman yang dipuji sekaligus dibenci. Saya baru mengenalnya ketika ia hadir memberikan komen pada tulisan saya soal “Menikmati Pekerjaan”.

Setelah itu ia tak lagi pernah hadir dalam lapak saya, namun tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh sebuah artikelnya yang cukup heboh soal “Cewek Cantik Cari Jodoh” dengan se “abrek” syarat dan prasyarat yang tidak menarik bagi saya. Saya tinggalkan komen di sana, “Sang Ji…. Saya doakan saja semoga sukses..!”

Lalu dia balas komen saya, “Kenapa mbak ? Tidak tertarik dengan saya? Apa saya kurang cantik?”

Saya pun membalas, “Justru karena kamu terlalu cantik…”.

Maksud saya dengan kata-kata “terlalu cantik” adalah “terlalu banyak syarat dan prasyarat yang saya tidak mungkin bisa penuhi”.

Setelah kejadian itu, satu-satunya siluman kompasiana ini terus saja melompat-lompat dengan gerakan-gerakan gesit. Gagasan-gagasan gilanya sempat mengguncang kompasiana. Terakhir dia angkat saya sebagai professor-feminin katanya.

Saya bilang padanya bahwa bila tingkahnya ini terjadi di dunia nyata, bisa-bisa saya sudah “digantung”, sebab professor itu adalah gelar kehormatan dan penghormatan tertinggi di dunia nyata akademis. Untungnya ini adalah dunia maya, yang bisa mengangkat dan menjerembabkan, mengangkat, lalu menjerembabkan kembali siapapun dalam waktu sekejap.

Tidak ada yang tidak mungkin. Berkelahi dan berdamai, lalu berkelahi lagi dan berdamai lagi, sudah menjadi sesuatu yang tidak asing di sini. Hampir tiap hari menu itu ada di kompasiana ini. Semua dapat merasakan itu terjadi si sini.

sosok Siluman Feminin

Menjadi Perawan di Sarang Perjaka”, dari sana kemudian saya mempelajari diri seorang Ma Sang Ji. Dari sana saya tahu bahwa A Sia Na adalah gagasan yang terlahir dari sebuah situasi KESEPIAN yang dirasakan. Dan itu berhasil mengganggu kenyamanan para penghuni di rumah tulis ini.

Judul 35 Penulis Cerdas, Sebelas Pembaca Cerdas, menghasilkan karya-karya baru yang senada, menghidupkan kompasiana dengan berbagai hiruk pikuknya. Mendukung atau menghujat, menyambut atau mensinisi, memuji atau membenci, mencintai atau mencampakkan.

Seorang Sang Ji tidak begitu mengagumkan bagi saya. Yang mengagumkan adalah bagaimana kemudian ia mampu mengelola kesepiannya menjadi karya-karya. Dan bukan berhenti di sana, karya-karya itu dalam waktu yang tidak terlalu lama, mampu beranak pinak melahirkan karya-karya baru, bukan hanya bagi orang yang memuji, tetapi juga bagi mereka yang membenci. Terlepas diakui atau tidak diakui.

Dan inilah hebatnya Kegiatan Tulis Menulis! Suka cita, duka derita, bahagia, sedih, damai, benci, cinta dan kemuakan semua pun melahirkan “karya baru”.

Soal “Menjadi Perawan (kesepian) di Sarang Perjaka”, saya hanya merespon demikian:

“Sang Ji, mengapa harus mengeluh menjadi perawan di sarang perjaka? Bukankah dengan demikian “keperawanan” itu akan menjadi lebih “nyata”?

Menjadi yang sedikit diantara yang banyak, minoritas di tengah mayoritas, cahaya di tengah kegelapan…, menonjol/berbeda diantara yang biasa/seragam, kesepian di tengah keramaian/hiruk pikuk, bagi saya, saya tetap saja menikmati keindahannya….

Seorang guru menyarankan kepada saya untuk belajar “beyond the mind”. Beliau berpesan, bahwa sesuatu itu dianggap masalah/bukan masalah, sangat tergantung kepada seberapa terpenjara seseorang oleh logika dan pemikiran.

Maka sebagai perempuan yang “feminin”, saya bahagia jika rasa sepi itu mengilhami Sang Ji /siapapun juga, untuk senantiasa melakukan lompatan-lompatan (energi) ajaib yang mengilhami banyak orang dan melahirkan lebih banyak lagi karya-karya baru. Saya mengistilahkan lompatan-lompatan energi ajaib ini sebagai “the quantum of miracle”.

Kesepian/keramaian/kedamaian dan bahkan kemarahan pun melahirkan tulisan-tulisan baru, judul-judul baru yang menggairahkan dan saling merangsang munculnya gagasan-gagasan dan bahkan “gerakan-gerakan” baru.

Hampir setiap hari, saya melihat energi itu bergerak dan melompat-lompat dengan tanpa beban. Dan itu indah kan?”

Salam bahagia,
18 September 2011
Aridha Prassetya

 

Tag: ,

5 responses to “Mengelola Kesepian

  1. Wendie Razif Soetikno

    5 Oktober 2011 at 17:40

    Kesepian mengantar kita untuk berani sendirian, …memasuki keheningan untuk membersihkan diri kita dari hiruk pikuk duniawi … masuk dalam kedalaman hati … dimana Allah bersemayam …. dari dalam hati yang suci itu energi kreatif mengalir … dan di alam bawah sadar itu daya karsa dan daya cipta memancar …

    Kalau kita tidak tahan akan kesepian, hati kita akan selalu gemuruh mengikuti kemauan dunia : ingin cepat kaya, ingin cepat dipuji, ingin kedudukan yang terhormat, dll …. tenteram dan damai akan menjauh, karena kita akan masuk dalam pusaran dunia

    Kesepian menghantar kita untuk hening …bergumul dengan diri sendiri … jihad melawan diri sendiri … hasilnya : JATI DIRI …menjadi diri sendiri …. mengerti untuk apa kita dicipta …lalu berkarya … sepi ing pamrih, rame ing gawe ….menyebar kebajikan …

     
  2. Amri Evianti

    5 Oktober 2011 at 17:55

    kesendirian dalam penantian memang bukanlah hal yang mudah bagi mereka yang tak mampu melalukan apa-apa untuk hidupnya. namun kesendirian akan menjadi hal yang sangat yang luar biasa bagi mereka yang mampu menjalani dengan berbagai kegiatan positif. mengisinya dengan menulis adalah hal yang begitu indah bagi seorang penulis. kesendirian akan memberikan berjuta inspirasi bagi dia yang berkenan meresapi akan makna hidup yang telah di jalani.
    Kesendirian merupakan hal memang harus dirasakan sebagai hal yang biasa dijalani,namun bukan berarti menyendiri dari kehidupan sosial lho ya?. kesendirian mengajarkan kita pada kejujuran, akankah kita mampu melakukan kejujuran saat sendiri?, kesendirian juga mengajarkan akan kematian, saat mati tak ada yang menemani kita, so jangan pernah bersedih saat sendiri, jadikan kesendirian itu sebagai media untuk muhasabah diri dan meningkatkan prestasi.

    Menulislah kapanpun dan dimanapun, dalam kesendirian atapun keramaian teruslah berkarya untuk dunia, menjadi cahaya bagi yang ada di sekitarnya. salam pena dari saya Amri Evianti di Yogyakarta

     
  3. oman

    5 Oktober 2011 at 20:48

    Kesendirian terkadang lebih berharga ketimbang keramaian.Dalam sepi justru kerap muncul intuisi yang melahirkan ide-ide brilian yang kelak bisa bermanfaat bagi sesama.Contoh Ilmuwan -ilmuwan kelas dunia seperti Albert Einstein yang mengungkapkan “Imagination is more important than science”, Berawal dari imajinasi dalam kesendirian telah melahirkan formula yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ilmuwan ini mencapai puncak kejayaannya bermula berkat kesendiriannya.Kesendirian akan menggelar keleluasaan kejernihan berpikir yang terhindar dari polusi sosial, kalkulasi ekonomi, politik serta ledakan emosi hati. Bahkan kesendirian kian mendekatkan kearah kemurnian spiritual yang tak tertandingi karena tak terhingga, tak terbatas dan tak bisa dikalkulasi dengan matematika.
    Sang Nabi Muhammad SAW sebagai pencerah umat menjadi manusia unggul yang bisa mewarnai dunia dan menjadi kiblat kaum muslim sedunia, menerima wahyu dalam kondisi sepi sendiri di gua hira ,Tuhan menyalurkan firmanNya bukan dari keramaian yang bersifat artifisial.Karena kesendirian menggenggam daya ledak yang eksplosif luar biasa. Bagaikan api dalam sekam…Air tenang pun biasanya menghanyutkan…!Efek kejut akan muncul dari suasana kesendirian yang mampu menggegerkan dunia karena akan terlahir sang pencerah dunia, pengubah dunia sebagai kepanjangan tangan -tangan Tuhan dalam kondisi spiritual tingkat tinggi.
    Dalam kehidupan dunia kesendirian juga akan membuka benang kusut kerumitan pribadi sehingga terurai menjadi pernik-pernik masalah kecil nan sederhana yang gampang terselesaikannya. Menyederhanakan problema yang tingkat kompleksitasnya tinggi menjadi gampang teratasi karena pelibatan Tuhan yang Maha Sepi saat doa didegungkan.
    Kesendirian akan memunculkan kontemplasi jatidiri akan hakekat kehidupan. Darimana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan pergi saat hadir titik mati ragawi.
    Luangkan waktu untuk kontemplasi diri.Hanya dengan kesendirian kita tahu siapa diri kita sejatinya,Selamat berkontemplasi dalam kesendirian !Sepi itu inti… !Sepi itu lebih berarti …!

     
  4. Siti Swandari

    7 Oktober 2011 at 10:42

    Kesepian ? Kesepian itu dari hati, dan kayaknya hati itu dikendalikan oleh otak. Kalau kita bisa mengendalikan otak kita, kesepian itu akan hilang dengan sendirinya.
    Aktiflah, memang sih setiap orang punya masalah, tetapi kita jangan larut dengan masalah, terus melankolis atau frustrasi.
    Anak muda, diluar sana masih banyak yang indah, ceria, dan membutuhkan tantangan untuk dijawab. Mawas diri sih pasti, tapi kesepian ? No way.

     
  5. Icca Aldista Queensha

    25 Oktober 2011 at 21:44

    Kesepian itu tidak enak.
    Kesepian itu buat kita takut.
    Kesepian itu membuat kita diam.
    Kesepian itu kosong.
    Kesepian itu sedih.
    Kesepian itu murung.
    Kesepian itu merapatkan mulut.
    Kesepian itu dihindari.

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s