RSS

Dipukul, balaslah memukul! Tapi,…

03 Okt

Pada salah satu sesi pelajaran dalam kelas suatu playgroup yang murid-muridnya berasal dari bermacam-macam suku bangsa, ada yang disebut resting time. Dalam sesi ini kegiatan yang dilakukan anak-anak berusia sekitar empat tahunan itu adalah beristirahat, dalam posisi tiduran selama lebih kurang 10-15 menit di atas sejenis tikar kecil yang harus mereka buka dan gulung sendiri setelah digunakan. Salah satu bentuk pelatihan supaya anak-anak itu mengerti ada waktu bermain, ada waktu beristirahat, ada waktu untuk hal-hal tertentu, termasuk juga kemandirian.

pertengkaran anakSuatu hari, setelah menggulung tikarnya untuk dikembalikan ke tempat yang telah disediakan, Andrew memukulkan gulungan tikarnya ke Jennifer yang berada di sebelahnya. Dalam keadaan terkejut, Jennifer menjerit. Kebetulan si ibu guru yang bertugas mengawasi melihat kejadian itu dan memanggil keduanya untuk mendekat. Bukan dengan nada marah atau seolah-olah akan menghukum, tetapi menyuruh kedua anak itu berdiri berhadapan.

Kemudian si ibu guru berkata, “Jennifer, pukul dengan gulungan tikarmu di tempat mana kamu tadi dipukul Andrew.” Spontan Jennifer memukul Andrew, dan Andrew yang kemudian menjerit, “Auuuuw…”

Dengan tersenyum, si ibu guru bertanya apa yang mereka rasakan setelah dipukul. Kedua anak balita itu dengan lugunya menjawab ‘sakit’. Ibu guru itu menerangkan, kalau mereka tidak suka dipukul karena rasanya menjadi tidak nyaman atau sakit, maka jangan memukul. Sebagai akibat dari saling menyakiti itu mereka harus saling memaafkan, caranya dengan bersalaman, saling mengatakan ‘maaf’ dan saling melihat ke wajah temannya tanpa marah. Sejak anak-anak memang sebaiknya sudah dibiasakan bagaimana saling memaafkan dengan tulus, bukan basa-basi yang bahkan kadang bisa kita saksikan dua orang dewasa saling bersalaman, tetapi pandangan masing-masing mengarah entah kemana.

Pelajaran hari itu selintas memang terlihat ekstrim, masa seorang guru menyuruh muridnya membalas memukul murid yang lain. Melihat caranya, guru itu pastinya bukan bermaksud mengajarkan balas dendam, tetapi sudah memperhitungkan, bahwa tindakan pemukulan itu tidak membahayakan secara fisik dan bisa memberi pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan pengalaman merasakan secara langsung. Ketika kita akan melakukan sesuatu terhadap orang lain, ada baiknya juga memikirkan bagaimana rasanya kalau hal yang sama dilakukan orang lain terhadap kita.

Sampai akhir tahun pelajaran tidak terdengar Andrew seenaknya melakukan kenakalan terhadap temannya seperti sebelum kejadian memukul dengan tikar itu, bahkan adakalanya dia berlaku seperti orang dewasa, misalnya suatu hari dia merelakan gilirannya mencuci tangan dengan mempersilakan Jennifer yang berdiri di belakangnya untuk melakukan lebih dahulu. Bayangkan, tindakan itu dilakukan oleh seorang anak lelaki berumur empat tahun yang menerapkan etiket ladies first.

Pada dasarnya dunia anak-anak menyimpan banyak hal yang bisa menjadi cermin bagi tindakan kita, kebijakan bagaimana seharusnya hidup bersama di masyarakat dengan segala bentuk keragaman. Kadang kita lupa, bahwa casing–nya saja manusia dewasa, tetapi justru di dalamnya lebih bersifat kanak-kanak. Demikian pula sebaliknya, wujud anak-anak tidak selalu kekanak-kanakan.

Pertanyaannya kemudian, cukup rendah hatikah kita untuk selalu belajar pada dunia anak-anak tanpa menjadi kekanak-kanakan?

***
Kampung Gunung, 24.02.2011
Tytiek Widyantari

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2011 in Edukasi, Inspiratif, Kejiwaan, Mendidik, Parenting, Psikologi

 

Tag: ,

8 responses to “Dipukul, balaslah memukul! Tapi,…

  1. Ma Sang Ji

    3 Oktober 2011 at 09:26

    “cukup rendah hatikah kita untuk selalu belajar pada dunia anak-anak tanpa menjadi kekanak-kanakan?”

    Pertanyaannya menggelitik. Caranya gimana, ya?

     
  2. edhi su'

    3 Oktober 2011 at 12:38

    hee,klo ingin mengetahui anak harus jdi anak juge, dlm ari menyelami jiwa anakkkkkkkkkkkkk

     
  3. Sarah Amijaya

    5 Oktober 2011 at 13:58

    Seorang manusia dewasa….pada dasarnya tetaplah seorang anak-anak….anak dari orang tuanya, dan orang tuanya juga anak dari orang tua mereka……begitu seterusnya (sampai mbulet sendiri^_^) jadi wajar ketika banyak orang-orang dewasa (dari segi umur) bertingkah lebih kekanak-kanakan dari mereka yang masih anak-anak….secara menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan….^_^

    Jadi lebih tepatnya konteks dewasa tidak melekat pada batas usia…tapi merujuk pemikiran, sikap dan tingkah laku…….^_^

    mmm, tentang Dipukul, balaslah memukul…..teori ini cukup ampuh dan sudah banyak diterapkan di berbagai play group termasuk di daerah saya di pelosok kalimantan juga di rumah-rumah tempat para ibu mendidik dan mengajari anak-anaknya tentang akhlak dan keadilan. Saya pribadi menerapkannya pada anak-anak saya……sejauh ini berhasil ^_^

     
  4. Siti Swandari

    7 Oktober 2011 at 16:08

    Anak itu polos, jujur dewasa pintar sandiwara. Perjalanan hidup membuat orang tetap jadi anak atau berubah pinter sandiwara. Saya yakin orangtua para koruptor pasti mendidik anaknya dengan baik, kalau kemudian anaknya berubah, mereka tidak bisa disalahkan.

     
  5. heri

    9 Oktober 2011 at 08:23

    kalo g kuat mukul, ya doakan saja, itulah iman yang paling lemah

     
  6. Rian Pramudito Saleh

    12 Oktober 2011 at 10:00

    Totalitas suatu pembelajaran dilakukan dengan observasi. Ingin tahu baunya tahi ayam, dicium. Ingin tahu rasanya tahi ayam, dijilat. Ingin tahu tekstur tahi ayam, dipegang.
    So, you can do it for the children learn too.
    Hahahahaaaa
    Dasar bodoh..

     
  7. wulan

    17 Oktober 2011 at 12:20

    Sadar atau tidak, Ibu Guru tersebut sudah mengajarkan kepada anak didiknya beberapa nilai-nilai moral, bertanggung jawab atas segala perbuatannya, berani menerima konsekuensi dari apa yang ia perbuat, berpikir terlabih dahulu sebelum bertindak (dan atau berucap), belajar memahami orang lain (sesama manusia), dan belajar memperbaiki diri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain hari.

    Semua itu merupakan nilai moral yang saat ini sudah cukup sulit kita temukan, bahkan di dalam diri manusia yang sudah selayaknya disebut dewasa.

     
  8. Chandra B.

    31 Oktober 2011 at 18:48

    salah satu alasan mengapa susah mendidik anak untuk belajar menghargai orang lain adalah, biasanya, cara pengasuhan orangtua. seorang ibu biasanya hanya belajar mengasuh dari bagaimana ibunya mengasuh dirinya sejak kecil. jadi tidak banyak inovasi pengasuhan yang terjadi pada generasi baru, di satu sisi hal itu sama saja dengan mengenyampingkan karakter anak yang berbeda-beda dan lebih buruk lagi, potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya.

    orangtua biasanya memihak kepada ego mereka sendiri dengan cara membuat alasan/drama bahwa “mereka harus melakukan segalanya untuk menyediakan makanan bagi keluarganya setiap hari,” sehingga tidak harus terlibat dengan hubungan emosional terlalu intens dengan anak. itu adalah alasan yang sangat klasik. seorang ayah biasanya yang paling sulit memahami tingkah anak-anaknya dan memilih menjauh, berkumpul bersama sesama bapak2 untuk saling mendukung, tanpa harus khawatir ada yang mengkritik kecerobohan dan rahasia-rahasia konyol mereka.

    ibu yang biasanya paling banyak menghabiskan waktu dengan anak. itu pun tidak semua waktu yang dihabiskan dengan anak ‘berkualitas’. ibu perlu memahami bahwa anak adalah sebuah dunia benar-benar baru dan ia harus menumbuhkan motivasi untuk mempelajari sekaligus memberikan ruang untuk anak berkembang secara positif. berikan contoh-contoh aktual perbuatan baik yang harus diteladani oleh anak, dan berikan penghargaan kepada anak jika berhasil melakukan prestasi kebaikan, sekecil apapun. penghargaan bisa berupa hadiah atau sekedar ucapan, “terimakasih, sayang.”

    anak akan tahu bahwa perbuatannya itu akan membuahkan hasil yang menyenangkan semua orang. karena terkadang, anak2 melakukan kenakalan sebagai eksperimen untuk melihat reaksi orang dewasa di sekitarnya, untuk mengetahui apakah hal tersebut diperbolehkan.

    menjadi keluarga adalah menjadi sebuah tim. jadi jangan biarkan ego membuat diri orangtua merasa rancu untuk bergaul akrab dengan anak. tapi juga sangat penting untuk bersikap tegas dalam memperingatkan dan memberi konsekuensi ketika anak melanggar peraturan.

    have a good life, everyone!🙂

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s