RSS

Lho, kamu kok suka pornografi?

05 Okt

Seringkah Anda menikmati pemandangan indah berupa patung ukiran perempuan dengan payudara terpampang? Kami sering. Eh, enggak ding. Ma jarang ngeliat. Kalo Michael? Kadang-kadang. Kebetulan Mike penggemar estetika seni ukiran Bali, baik yang naturalis maupun semi-abstrak. Ada beberapa patung ukiran wanita bertelanjang dada di rumah Mike, termasuk di dalam kamar. Patung menggiurkan itu pernah membuat seorang teman terkejut. Seraya tersenyum sinis, ia mengecam, “Lho, kamu kok suka pornografi?”

Eits, emangnya, pornografi itu apa sih? Menurut Undang-Undang Pornografi (2008), “Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.”

patung wanita bertelanjang dada - karya seni ukir BaliNah, bagaimana dengan patung ukiran wanita bertelanjang dada made in Bali seperti pada gambar di sebelah ini? Tergolong pornografikah?

Tidak. Di Bali pada umumnya, wanita bertelanjang dada dianggap tidak melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Mungkin ini sebabnya, tidak sedikit turis wanita yang bertelanjang dada di pantai. Dan bertelanjang payudara itu bukan pengaruh budaya Barat, melainkan budaya asli Bali.

Lantas, mengapa si teman tadi menganggap patung itu porno? Etnosentrisme. Ia memakai budaya sendiri sebagai ukuran untuk menilai budaya lain. Dalam budaya Jakarta mungkin memang kurang sopan bagi wanita untuk bertelanjang dada di depan umum. Tetapi dalam budaya Bali, hal itu sama sekali bukan persoalan. Tidak ada wanita yang merasa terhina dan tidak ada lelaki yang merasa “terganggu”. Semua biasa-biasa saja.

Dengan etnosentrisme, kita menganggap benar budaya kita sendiri saja. Sedangkan budaya lain kita anggap aneh, asing, bahkan keliru. Kita berpandangan, budaya kita sendiri baik dan unggul, sedangkan budaya lain pasti buruk dan rendah.

Seharusnya, kita berusaha untuk mempelajari dan menghargai keragaman budaya bangsa kita. Menghargainya dalam bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”. Bila kita sempat atau pernah bertempat tinggal beberapa tahun di tengah budaya lain di bumi pertiwi ini dan mengalami pengalaman hidup lintas budaya, maka sikap kita terhadap budaya lain menjadi terbuka dan kita mulai belajar menghargai budaya lain. Pengalaman dan pengetahuan itu akan membuka wawasan kita dan membuat kita kagum bahwa bangsa kita bersifat multikultural atau majemuk dalam budaya. Dengan demikian kita tidak lagi menilai budaya lain dengan ukuran kita sendiri.

Setiap budaya bebas untuk berada sebagaimana adanya. Secara alamiah. Tidak perlu diseragamkan. Ini disebut relativisme kultural. Artinya, budaya selalu bersifat relatif, sehingga tidak boleh diukur dengan ukuran tunggal. Menyangkal kemajemukan budaya adalah menyangkal hakikat bangsa kita. Sebab, pada dasarnya kita memang adalah majemuk. Berbeda-beda budaya tapi satu bangsa.

Salam Budaya dan Selamat Berbudaya.

 
 

Tag: , ,

14 responses to “Lho, kamu kok suka pornografi?

  1. edhi su'

    5 Oktober 2011 at 07:17

    hee, dri telanjang, pakai baju dan telanjang lagiiiiiii, ceyennnnnnnnnnn

     
  2. Bambang Sutrisno

    5 Oktober 2011 at 11:34

    dalam pengertian umum budaya merupakan hasil karya cipta manusia.
    jadi dengan menghormati budaya orang bearti kita juga perduli akan budaya kita sendiri.
    melestarikan budaya merupakan hal yang sangat positif menurut saya.
    dengan adanya budaya maka disanalah terdapat perbedaan, dengan perbedaan kita dapat menjadikannya pelajaran.
    dengan mencintai dan melestarikan budaya sendiri itu baru namanya berjiwa pahlawan.
    katakanlah Aku Cinta Budayaku Sendiri…
    heheheheheheheheeee….

     
    • Ma Sang Ji

      5 Oktober 2011 at 12:11

      Ya, aku menyukai budayaku sendiri, dan menghargai budaya lain.🙂

       
  3. macho23

    5 Oktober 2011 at 12:05

    Hahahahahha
    Brader Mich

     
    • Ma Sang Ji

      5 Oktober 2011 at 12:12

      macho23 kenal brader Mich di mana?

       
  4. Singgih Swasono

    5 Oktober 2011 at 23:49

    Itulah Indonesia Raya……

     
  5. Evi

    6 Oktober 2011 at 00:22

    Emang di saat ini wanita-wanita Bali masih bertelanjang dada? Kalau ke Bali saya gak pernah lihat ya, kecuali turis dengan kulit dan postur yg tak mewakili wanita Bali?

     
    • Ma Sang Ji

      6 Oktober 2011 at 00:54

      Mbak Evi benar. Budaya kita senantiasa berubah. Kini hampir mustahil menjumpai wanita Bali bertelanjang dada di depan publik. Namun dalam karya seni rupa Bali, masih banyak yang mempertontonkannya.

       
  6. Mich

    6 Oktober 2011 at 17:04

    Itulah “kesempurnaan” pemahaman tentang kemajemukan budaya. Semakin berbudaya seseorang, semakin tau ia menempatkan diri dalam memandang dan menghargai budaya lain yang sama sekali berbeda.🙂

    Mantap Ma,
    Cheers!

    -Mich-

     
  7. Mich

    6 Oktober 2011 at 17:06

    @Macho: Berdasarkan cara memanggil saya, cuma ada dua kemungkinan: Kamu pasti ….either Bro Armand or Mas Arrie…..betulkah?

    Cheers!

     
  8. sitiswandariSiti Swandari

    7 Oktober 2011 at 10:20

    Setuju, nanti secara global, kitapun harus saling menghargai, kami semua kan berdiam disatu planet. Dipelihara dengan baik dong bumi satu2nya ini, peace

     
  9. Prasetyo Deka

    8 Oktober 2011 at 15:20

    Ya Sallam.. saya baru tahu ada istilah ” etnosentrisme”.. isin aku rek hahaha..
    ngomong2, saya suka cara anda ‘berbhineka” emm jeng Ma Sang Ji (semoga tak aneh cara penyebutan saya..), memandang tinggi budaya sendiri, tanpa memandang budaya lain dari tempat yang lebih tinggi..
    hanya, sebagai laki2.. saya pribadi berharap tidak bertemu dengan wanita bertelanjang dada disekitar saya. bisa penuh rumah sakit ngrawat pria korban kecelakaan karena meleng..😀

     
  10. Rian Pramudito Saleh

    12 Oktober 2011 at 09:50

    Dasar bodoh..
    Siapa yang gak suka pornografi?
    Gak sehat tuh yang gak suka..

     

Silakan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s