RSS

Arsip Kategori: Sejarah & Peradaban

Anak-anak itu Dicekam Ketakutan

Anak-anak itu, resah, gelisah, dan senantiasa dicekam ketakutan. Sejarah yang telah tertoreh adalah sejarah darah. Penyerangan demi penyerangan terjadi. Rumah-rumah terbakar, demikian pula rumah-rumah ibadah!

Anak-anak itu bingung. Tidak tahu mengapa keluarga dan masyarakat mereka bisa dianggap sebagai musuh. Dianggap halal darahnya. Dianggap akan mendapat pahala besar bila sudah bisa dijagal. Padahal, sehari-hari kehidupan berjalan seperti masyarakat pada umumnya. Hanya keyakinan yang dimiliki, dianggap salah.

A Glimpse of My World by Dennis BautistaAnak-anak itu, entah sudah berapa kali. Mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Selalu saja bernasib sama. Siapakah yang peduli dengan anak-anak itu? Siapa?

Lihatlah, mereka menggigil, menutup mata-pun takut. Takut tertidur ketika bencana penuh aroma darah kembali datang. Mimpi-mimpi terasa cuma khayalan. karena Mimpi terasa telah pergi pula.

Dan kau di situ? Sedang apa? Menikmati derita atau bahkan tak tampak apa-apa?

Yogya, 30 Juli 2010

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2011 in Aktual, Kemanusiaan, Sejarah & Peradaban

 

Tag: , ,

Trauma Korban Politik 1965

Trauma Korban Politik 1965

Ini zaman peralihan 1966, dari pemerintahan Orde Lama ke pemerintahan Orde Baru. Belum lama rasanya kami menyaksikan kerusuhan dan demonstrasi di mana-mana. Semua anak sekolah berbaur dengan masyarakat tumpah-ruah, turun ke alun-alun, ada bakar-bakaran patung kertas para tokoh rezim Orde Lama.

Sebelumnya selama dua tahun Bapak ditugaskan ke hutan-hutan Sulawesi, konon, untuk mengantisipasi kekacauan yang digerakkan oleh Kahar Muzakar. Selama ditinggalkan kepala keluarga kehidupan kami sangat nelangsa. Kekurangan makanan dan pakaian, ditambah tekanan yang dilakukan oleh komunis terhadap keluarga tentara, sungguh menyiksa kami.

“Kenapa kita cuma makan ini, Mak?” protesku apabila ibuku hanya bisa menghidangkan gaplek atau nasi campur bulgur yang rasanya tak karuan itu.

“Kita tidak punya nasi, tidak punya gula, tidak ada terigu… Tidak punya apa-apa selain ini, Nak,” jawab ibuku sambil menahan tangisnya.

Agaknya mereka, entah siapapun itu, memang telah mengatur segalanya, termasuk menjauhkan para prajurit kami dari keluarga dan rakyatnya. Sehingga selama dua tahun kami tak bisa melihat sosok ayah, tak pernah mendengar tegur-sapa, dan merasai belai kasih sayangnya. Ibuku mengambl alih kedudukan sebagai kepala keluarga, sebagai ibu sekaligus ayah bagi kami.

Kukenang masa-masa itu sebagai suatu kekejian politik yang sama sekali tak bisa kami pahami. Dalam pergaulan anak-anak pun, mereka memanfaatkan anak-anak untuk menjahili kami. Samar-samar masih kukenang, suatu hari kakakku pulang dalam keadaan berdarah dengan luka menganga di kakinya.

“Si Iyen menjorokkanku ke empang!” erangnya. “Kami berebut naik perahu, kakiku sobek kena batu runcing…” jelasnya di sela-sela kesibukan ibu kami membersihkan dan mengobati luka-lukanya itu.

Trauma Korban Politik 1965“Iyen… tapi kenapa?” kejarku penasaran.

“Karena kita anak tentara, cucu Ajengan…”

Ah, padahal saat itu kakek kami telah lama meninggal!

“Oooh… tapi kenapa Iyen jahat begitu?”

“Karena dia anak PKI. Mereka benci sama kita…”

“Mm… begitu ya…” aku berlagak memahami perkataannya, sebelum dia meracau tentang PKI dan lainnya. Aku berpikir, kakakku sudah lebih paham tinimbang diriku yang masih sangat naif tentang urusan orang dewasa.

Karena penyakit bawaannya, kelainan darah, luka itu sampai berbulan-bulan sulit sembuh, dan sangat menyiksanya. Peristiwa itu membekaskan trauma dalam jiwa kakakku di kemudian hari. Ada beberapa karyanya yang menyuarakan antikomunisme.

by Pipiet Senja

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2011 in Aktual, Kemanusiaan, Kenegaraan, Politik, Sejarah & Peradaban

 

Tag: , ,