RSS

Arsip Kategori: Politik

Trauma Korban Politik 1965

Trauma Korban Politik 1965

Ini zaman peralihan 1966, dari pemerintahan Orde Lama ke pemerintahan Orde Baru. Belum lama rasanya kami menyaksikan kerusuhan dan demonstrasi di mana-mana. Semua anak sekolah berbaur dengan masyarakat tumpah-ruah, turun ke alun-alun, ada bakar-bakaran patung kertas para tokoh rezim Orde Lama.

Sebelumnya selama dua tahun Bapak ditugaskan ke hutan-hutan Sulawesi, konon, untuk mengantisipasi kekacauan yang digerakkan oleh Kahar Muzakar. Selama ditinggalkan kepala keluarga kehidupan kami sangat nelangsa. Kekurangan makanan dan pakaian, ditambah tekanan yang dilakukan oleh komunis terhadap keluarga tentara, sungguh menyiksa kami.

“Kenapa kita cuma makan ini, Mak?” protesku apabila ibuku hanya bisa menghidangkan gaplek atau nasi campur bulgur yang rasanya tak karuan itu.

“Kita tidak punya nasi, tidak punya gula, tidak ada terigu… Tidak punya apa-apa selain ini, Nak,” jawab ibuku sambil menahan tangisnya.

Agaknya mereka, entah siapapun itu, memang telah mengatur segalanya, termasuk menjauhkan para prajurit kami dari keluarga dan rakyatnya. Sehingga selama dua tahun kami tak bisa melihat sosok ayah, tak pernah mendengar tegur-sapa, dan merasai belai kasih sayangnya. Ibuku mengambl alih kedudukan sebagai kepala keluarga, sebagai ibu sekaligus ayah bagi kami.

Kukenang masa-masa itu sebagai suatu kekejian politik yang sama sekali tak bisa kami pahami. Dalam pergaulan anak-anak pun, mereka memanfaatkan anak-anak untuk menjahili kami. Samar-samar masih kukenang, suatu hari kakakku pulang dalam keadaan berdarah dengan luka menganga di kakinya.

“Si Iyen menjorokkanku ke empang!” erangnya. “Kami berebut naik perahu, kakiku sobek kena batu runcing…” jelasnya di sela-sela kesibukan ibu kami membersihkan dan mengobati luka-lukanya itu.

Trauma Korban Politik 1965“Iyen… tapi kenapa?” kejarku penasaran.

“Karena kita anak tentara, cucu Ajengan…”

Ah, padahal saat itu kakek kami telah lama meninggal!

“Oooh… tapi kenapa Iyen jahat begitu?”

“Karena dia anak PKI. Mereka benci sama kita…”

“Mm… begitu ya…” aku berlagak memahami perkataannya, sebelum dia meracau tentang PKI dan lainnya. Aku berpikir, kakakku sudah lebih paham tinimbang diriku yang masih sangat naif tentang urusan orang dewasa.

Karena penyakit bawaannya, kelainan darah, luka itu sampai berbulan-bulan sulit sembuh, dan sangat menyiksanya. Peristiwa itu membekaskan trauma dalam jiwa kakakku di kemudian hari. Ada beberapa karyanya yang menyuarakan antikomunisme.

by Pipiet Senja

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2011 in Aktual, Kemanusiaan, Kenegaraan, Politik, Sejarah & Peradaban

 

Tag: , ,

5 Keanehan Teror Bom di Solo

Saya mencatat, sekurang-kurangnya ada 5 keanehan dari Berita terheboh saat ini: Sebuah bom meledak di pintu masuk gereja Bethel, Kepunton, Solo pada hari Ahad, 25 September 2011, sekitar pukul 11 siang. Kejadian ini diduga merupakan aksi bunuh-diri seorang teroris. Keanehan kasus kemanusiaan yang mencederai hukum & keadilan ini meliputi:

Pelaku bom bunuh diri di gereja Bethel - Solo - 25 September 20111. Wajah pelaku yang diduga pelaku bom bunuh diri masih utuh dan bisa dikenali, walau dada ke bawah hancur. Apakah si pelaku (dan jaringannya) sengaja ingin dikenali?

2. Bom itu meledak mungkin “tidak tepat pada waktunya”, yaitu bukan pada saat paling ramai. Apakah targetnya bukan menewaskan sebanyak-banyaknya orang?

3. Tidak ada isu apa-apa sebelumnya di Solo. Tahu-tahu ada bom. Yang ada, justru isu-isu politik yang memanas di ibukota, Jakarta. Adakah keterkaitan antara aksi-aksi teror seperti itu dan pertikaian para elit politik di ibukota?

4. Kota Solo adalah barometer kebudayaan dan harmoni. (Di kota ini jugalah terdapat gereja yang letaknya berdampingan dengan masjid, yaitu di kelurahan Kratonan.) Kalau Solo bobol, apakah teror semacam ini akan merembet ke daerah lain?

5. Menurut Menko Polkam Djoko Suyanto, upaya polisi dan militer untuk memutus jaringan dan pergerakan teroris semacam mereka itu tidak mudah dilakukan. “Dulu mereka memakai alat komunikasi yang bisa kita jejaki, tapi perkembangannya kemudian, mereka tidak lagi memakai alat komunikasi seperti itu dan hal ini juga menyulitkan kami,” katanya. Jadi, di negara kita ini, teroris berhasil mengalahkan pemerintah?

dirangkum oleh Ma Sang Ji

 
 

Tag: , , ,