RSS

Arsip Kategori: Komunikasi

Tak Tega Aku Merayumu

Gadisku….Siapa pun kamu!

Sungguh aku tak pandai merayu

Mengobral kata-kata indah yang palsu

Hanya demi untuk dapat mencumbuimu

Terlalu….

Namun mengapa justru kamu suka itu

Kata-kata yang membuatmu terbuai

Mabuk kepayang, melayang

Dalam manisnya kata tersembunyi racun

Aku tak tega melakukan padamu

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Oktober 2011 in Bermanfaat, Komunikasi, Pria-Wanita

 

Hiii… Teroris muncul lagi di Kompasiana

Belum sebulan, teroris bergentayangan di media komunikasi Kompasiana. (Lihat “Awas! Ada Teroris di Kompasiana“). Siang tadi, Ma Sang Ji melaporkan: “Lagi-lagi seorang teroris muncul kembali di Kompasiana dengan identitas baru. Kali ini yang diserang adalah akun A Sia Na di Kompasiana. Semua artikel kita [mengenai blogging] dia teror dengan spam komentar.”

Read the rest of this entry »

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Oktober 2011 in Bermanfaat, Komunikasi, Media

 

Tag: , ,

Mengelola Kesepian

Adalah Ma Sang Ji, seorang (atau seekor?) perawan siluman yang dipuji sekaligus dibenci. Saya baru mengenalnya ketika ia hadir memberikan komen pada tulisan saya soal “Menikmati Pekerjaan”.

Setelah itu ia tak lagi pernah hadir dalam lapak saya, namun tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh sebuah artikelnya yang cukup heboh soal “Cewek Cantik Cari Jodoh” dengan se “abrek” syarat dan prasyarat yang tidak menarik bagi saya. Saya tinggalkan komen di sana, “Sang Ji…. Saya doakan saja semoga sukses..!”

Lalu dia balas komen saya, “Kenapa mbak ? Tidak tertarik dengan saya? Apa saya kurang cantik?”

Read the rest of this entry »

 

Tag: ,

Mengapa Pria Lebih Sukses Bila Menggandeng Wanita

Mengapa Pria Lebih Sukses Bila Menggandeng Wanita

Di tempat kerja modern, hampir semua usaha melibatkan tim-tim kecil. Namun bahkan jika orang-orang yang sangat cerdas dan sangat berbakat bekerja bersama dalam suatu proyek, jelas bahwa tim ini bisa saja menjadi malapetaka dahsyat. Kadang-kadang tim ini seperti berubah menjadi sekumpulan orang-orang pandir yang kekanak-kanakan. Apakah lebih baik melepaskan harapan terhadap tim dan lebih bersandar pada kemampuan individual belaka?

Tidak perlu. Tim-tim itu bisa lebih cerdas dan lebih efektif daripada individu-individu anggotanya. Sinergi mereka itu sungguh lebih besar dan lebih baik daripada sekadar kumpulan bagian-bagiannya, asalkan berada dalam keadaan yang tepat.

Suatu riset yang baru-baru ini diselenggarakan oleh sejumlah peneliti di MIT, Carnegie Mellon, dan Union College menunjukkan bahwa kecerdasan kolektif suatu kelompok kecil yang bekerja sama secara khas itu berperan pula dalam kinerja mereka pada berbagai tugas yang beraneka-macam. Dalam penelitian tersebut, hampir 700 orang ditempatkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 2 sampai 5 orang. Orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah sebagai sebuah tim ternyata bisa diprediksi bahwa mereka akan sukses pula dalam berbagai tugas, seperti negosiasi dan analisis logis.

Kecerdasan rata-rata para anggota tim (yang diukur berdasarkan kecerdasan individual) tidaklah mencerminkan kinerja tim sama sekali. Dengan kata lain, sekadar mengumpulkan orang-orang cerdas dalam suatu kelompok itu belum tentu menghasilkan tim yang lebih cerdas.

Ternyata kecerdasan kolektif tim itu melampaui potensi-potensi individu para anggotanya hanya jika ada dinamika internal yang tepat. Pare peneliti tersebut menemukan bahwa yang dibutuhkan oleh sebuah kelompok untuk menjadi “cerdas” itu adalah koordinasi dan komunikasi yang efektif, dan yang paling berpeluang adalah kelompok-kelompok yang para anggotanya memiliki kecerdasan sosial yang lebih tinggi.

Bila suatu kelompok terdiri dari orang-orang yang lihai dalam mencerap dan menanggapi emosi orang lain, maka kelompok ini akan menghasilkan kecerdasan kolektif yang lebih tinggi dan kinerja yang lebih unggul. Sebaliknya, kelompok yang anggota-anggotanya saling bersaing untuk mendominasi percakapan dan pengambilan keputusan akan secara kolektif kurang cerdas dan kurang efektif.

Lantas, bagaimana Anda bisa memastikan bahwa tim Anda cerdas-sosial? Jawabnya sederhana: libatkan lebih banyak wanita [yang “feminin“]. Dalam penelitian tersebut, tim-tim yang terdiri dari lebih banyak perempuan ternyata jelas-jelas lebih cerdas-sosial daripada tim-tim yang mayoritasnya laki-laki.

The Corrs grace the stage at the Italian Festival di Sanremo, March 2002.

Jika Anda tidak mampu mengubah jenis kelamin anggota tim-tim Anda, tidak usah khawatir. Kecerdasan kolektif mereka dapat dikembangkan melalui kerjasama yang lebih “tenggang-rasa”. Caranya, antara lain, ciptakan peluang-peluang bagi setiap anggota tim untuk mengungkap perasaan mereka masing-masing, dan beri kesempatan kepada para anggota lain untuk menanggapinya. Sebisa mungkin, gunakan komunikasi tatapmuka. (Sebab, emosi itu sulit terbaca melalui telepon, dan hampir mustahil melalui email.) Bangunlah lingkungan kerja yang memahami dan menghargai perasaan para anggotanya, sehingga terciptalah tim yang lebih cerdas, lebih bahagia, dan lebih sukes!

——-
*Terjemahan dari Heidi Grant Halvorson, “Many Heads Can Be Better Than One… If They Belong to Women

diterjemahkan oleh Ma Sang Ji

 
 

Tag: , , , ,

Lebih Nyaman Nikmati Pro-Kontra

Sebagai seorang karyawati dan ibu 2 puteri, saya banyak berinterkasi dengan berbagai orang. Dalam dunia kerja kerap menuntut untuk lebih banyak bersikap profesional dan sabar karena kita tidak bisa mendikte mereka untuk menurut kemauan kita. Juga dalam bertetangga, berteman kita juga tidak bisa memaksakan aturan main yang dianggap nyaman buat pribadi. Sebagai personil A Sia Na, juga tidak bisa kita memaksakan orang untuk suka. Pasti pro dan kontra datang, secara face to face menyatakan ketidaksukaan atau pun secara tidak langsung.

Read the rest of this entry »

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 24 September 2011 in Antarpribadi, Bermanfaat, Komunikasi

 

Tag: , , ,

Cara Cantik Mengatasi Kritik

Cara Cantik Mengatasi Kritik

boy girl talkingOrang feminin cenderung mudah disalahpahami oleh orang maskulin. Tak jarang, sang pembaca maskulin menilai si penulis feminin telah melakukan kesalahan yang amat besar. Begitu fatalnya kesalahan itu di mata sang maskulin, sampai-sampai si feminin dianggap layak dipermalukan, diolok-olok, dan dikritik habis-habisan di depan publik.
Read the rest of this entry »

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 18 September 2011 in Bermanfaat, Komunikasi, Pria-Wanita

 

Tag: , , , , ,

Menjadi Perawan di Sarang Perjaka

Menjadi Perawan di Sarang Perjaka

Pernahkah Anda merasakan atau membayangkan menjadi seorang perempuan di tengah-tengah kaum lelaki? Saya merasakannya setelah dua bulan menjadi kompasianer. Yang saya maksudkan, saya merasa menjadi seorang blogger feminin yang kesepian di tengah hiruk-pikuk sebuah media maskulin yang bernama Kompasiana.

Ditilik dari nama dan slogannya, Kompasiana memang terkesan feminin. Begitu pula interaksi antara para kompasianer. Namun di luar 3 hal tersebut, saya rasa media ini 100% maskulin.

Read the rest of this entry »

 

Tag: , , , ,