RSS

Arsip Kategori: Keluarga Harmonis

Biarkan Aku Mencintai Anakku

Perjalanan hari masih panjang. Aku sendiri masih lelah, berkaca di depan meja riasku. Dan dengan antusiasnya, Lucy anakku, menjarang rambut panjangku yang masih basah dengan hair dryer. Menyisirnya dengan lembut setelah mengoleskan pelembab terlebih dahulu. Terakhir dan tak pernah luput adalah adalah jepitan. Ya, jepitan yang justru lebih sering membuatku menjadi bulan-bulanan kawan-kawanku di tempat KERJA. Tapi aku tak mungkin akan mengelak dari jepitan yang anakku membuatnya sendiri, bukan?

Ah, urusan rambut ternyata sudah selesai. Lucy sudah mulai mengusap bedak tipis-tipis dimukaku, disusul kemudian dengan sentuhan blush on. Masakara yang semakin membuat lentik bulu mataku, dan akhirnya sampailah pada bibir merah basahku. Ia memoleskan warna pink natural lipstick tahan air, hadiah dari BOSS, itu pelan. Hati-hati sekali ia melakukan itu.

“Bunda, pakai lipstiknya sedikit-sedikit saja yah.. Ini kan mahal…bagus banget lagi..cocok sekali dengan bibir Bunda..”

Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Oktober 2011 in Cinta, Keluarga Harmonis, Menarik

 

Tag: ,

Sisi Lain Akibat Bom Bunuh Diri Terhadap Keluarga Pelaku

Sisi Lain Akibat Bom Bunuh Diri Terhadap Keluarga Pelaku

Menunggu suhu-suhu yang maskulin, kok baru satu yang posting. Dengan agak kurang percaya diri, bolehlah peternak puyuh kirim artikel ini di sini, tapi tidak bicara puyuh. Cerita dari pengalaman pribadi, ingatan untuk dituliskan muncul setelah akhir-akhir ini ada peristiwa bom bunuh diri di Solo.

Topik ini sudah saya tulis di rumah saya yang tetanggaan dengan asianaclub, tapi saya tulis lagi. Semoga menjadi inspirasi, bahwa lingkaran efek pelaku bom bunuh, bisa sampai bahkan pada lingkup keluarga dengan hubungan “mantan” ipar. Apalagi pada keluarga yang berhubungan dekat, seperti orang tua. Bisa dibayangkan bagaimana sedih, duka, atau malah dikucilkan bisa menimpa. Mungkin pelaku bom bunuh diri Solo pun, sama saja keadaan pada keluarganya.

Read the rest of this entry »

 

Tag: , , , , ,

Anakku pelaku bom bunuh diri, kuterima serpihan tubuhnya

Anakku pelaku bom bunuh diri, kuterima serpihan tubuhnya

Baru kemarin lusa, kita dikagetkan oleh kasus teror bom, 25 September 2011. (Lihat “5 Keanehan Teror Bom di Solo“). Namun, ingatan kami sudah melayang menuju tangisan Abdul Gofur, ayah Muhammad Syarif, pelaku Bom bunuh diri di Cirebon, lima bulan yang lalu. Terinspirasi oleh wawancara di salah satu siaran televisi saat itu, tersusunlah tulisan berikut ini.

****

Kami menyambut kelahiranmu dengan bahagia. Meski pun kau bukan anak yang pertama, tapi kau seakan membawa sesuatu yang baru buat kami. Kehangatan baru, berbeda dan tak pernah kami alami sebelumnya. Istimewa seperti dirimu yang telah memberikan kami kebahagiaan yang sangat. Kau terlahir sempurna, sesempurna seperti yang kami harapkan.

Satu hari berlalu, dan berikutnya kau adalalah anak yang cerdas, lucu dan selalu bertanya tentang apapun. Kami yakin saat itu, kau adalah anugrah titipan Tuhan yang akan memberi kami sesuatu yang berbeda. Dan ketidak samaan itu pun semakin terlihat, saat kau tak mau disamakan dengan yang lain. Hingga adik-adikmu terlahir kau tetap menjadi seorang anak yang selalu mendapat perhatian lebih, karna kamu memang berbeda. Kau tetap menjadi yang utama buat kami, anak yang istimewa dengan segala keberanianmu membela sesuatu yang kau anggap benar. Kau adalah harapan kami, yang suatu saat akan memberikan kami sesuatu yang besar. Sebuah kebanggan.

Harapan itu semakin kuat, saat kau ucapkan sendiri bahwa akan memberi kami kejutan. Sesuatu yang besar namun entah apa, karena sengaja dirahasiakan agar pemberian itu berkesan. Kami menunggu nak! Kami tetap berdoa kau akan menjadi kebanggan buat kami. Keluarga dan bangsa ini menunggumu berbuat sesuatu, yang bisa membuat aku sebagai ayah merasa bangga. Aku menunggu mengumumkan kepada semua orang. “Bahwa aku adalah ayahmu“.

****

Di kemudian hari harapan itu kian terkikis, ketika perubahan di dirimu menjadi tak terkendali. Tak senada dengan kata bangga yang dulu sempat bergelora didadaku. Tak lagi membuatku berharap kau akan menjadi seseorang yang begitu besar, karena kini kau mulai membuatku panik dengan perbedaan itu. Resah dan gelisah kini menemaniku menghadapi hari.

Dari sekian hari yang telah kulalui sebelumnya, kini kau semakin membuatku takut, karena keberadaanmu membuat mereka geram. Ketika ucapanmu membuat tetangga kita memalingkan wajahnya dariku. Saat temanku berkata tentang seseorang yang membuat hatinya terluka, dan seseorang itu adalah kamu. Anakku yang aku banggakan.

Kau memang benar-benar telah berubah, hingga menganggapku sebagai sosok yang tak berharga lagi. Pemahaman itukah yang kau dapatkan dari hasilmu belajar selama ini. Hingga tak peduli lagi dengan perasaan orang tuamu yang malu dan sakit hati, karena ucapan itu memang membutku menyesal terlalu membebaskanmu belajar. Ilmu semacam apa yang kau pelajari? Sehingga sebutan kafir itu tertuju kepadaku. Dari mulutmu yang dulu kuajari berkata-kata.

sadness by Goran Jovic****

Sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku harus menyambutmu kembali saat ini. Setelah sekian lama kau tak terlihat, kini kau kembali dengan rombongan yang tak pernah aku harapkan. Siapa mereka aku tak tau. Darimana mereka datang aku juga tak pernah bertanya. Dan aku tak ingin menanyakannya, bahkan aku tak berharap kalian datang seperti saat ini. Sungguh aku tak berharap akan menyambutmu sebagai mayat, dengan tubuh yang tak utuh lagi.

Kehadiranmu saat ini yang tanpa nyawa, memberikan kami suasana yang tak menentu. Beribu Tanya dan cemooh mereka tertuju, bukan hanya tetangga teman dan kerabat saja. Tapi semuanya yang aku tak kenal pun mencela, mengawasi dan dan mewaspadai kehidupanku sebagai ayah pelaku bom bunuh diri.

Aku bukan Teroris seperti yang mereka kira, tapi mereka memberikan kecurigaan itu karena aku ayahmu. Yang merawat dan mendidikmu hingga dewasa. Apa hendak dikata? Sekian telunjuk itu mengarah tepat di hidungku. Karena aku ayahmu, yang kini harus menguburkanmu. Meski dengan tubuh yang tak lengkap lagi.

Nyawamu memang telah tiada, yang tergantikan dengan lahirnya kebencian yang baru. Menjadi benih yang di semai di hati mereka. Tentang aku yang memiliki anak seorang teroris.

****

Jauh dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Kau tetap anakku yang aku cintai, aku mencintaimu. Tak perlu kau ragukan kasih sayangku untukmu. Aku memaafkanmu nak! Pergilah dengan tenang! Ayah disini akan selalu mendoakanmu! Karna kamu memang anakku yang aku cintai.

Dari sekian banyak nasihatku untukmu, ingin aku memberikan nasihat terakhir untukmu. Ikutilah ayah! Karena kesederhanaan ilmu yang ayah miliki, tak akan menjadikanmu membenci saudara-saudaramu yang kini meregang nyawa. Dan semua pelajaran yang akan ayah berikan, adalah memahami bahwa kebenaran itu bukanlah membunuh dirimu dan mereka yang entah memiliki dosa apa.

Seandainya kau masih bisa mendengarku, kan kubisikkan kata-kata perpisahan. Dan bawalah bersamamu segenggam doa yang ayah berikan ini, tuk menjadi bekal untukmu di alam sana. Semoga kau diterima disisi-Nya. Amiin…

****

Aku tidak membencimu nak!. Karena kebencian ayah adalah perasaan sesal saja. Untuk mereka yang telah mencuci otakmu. Hingga kesesatan itu telah membawamu dalam kematian yang tak wajar.

by Roni R-82

 

Tag: , , , ,