RSS

Arsip Kategori: Edukasi

Dipukul, balaslah memukul! Tapi,…

Pada salah satu sesi pelajaran dalam kelas suatu playgroup yang murid-muridnya berasal dari bermacam-macam suku bangsa, ada yang disebut resting time. Dalam sesi ini kegiatan yang dilakukan anak-anak berusia sekitar empat tahunan itu adalah beristirahat, dalam posisi tiduran selama lebih kurang 10-15 menit di atas sejenis tikar kecil yang harus mereka buka dan gulung sendiri setelah digunakan. Salah satu bentuk pelatihan supaya anak-anak itu mengerti ada waktu bermain, ada waktu beristirahat, ada waktu untuk hal-hal tertentu, termasuk juga kemandirian.
Read the rest of this entry »

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2011 in Edukasi, Inspiratif, Kejiwaan, Mendidik, Parenting, Psikologi

 

Tag: ,

Usia 27 Sudah Berani Kuliah S3

Salah satu moto hidup saya, yaitu : tiada kata berhenti untuk belajar. Sepanjang hidup saya, sangat banyak waktu yang saya habiskan untuk belajar menuntut ilmu. Saat ini usia saya 28 tahun, sekarang saya sedang menuntut ilmu S3 di Universitas Indonesia (skrg ini semester 3). Jika orang-orang seusia saya sibuk mengejar karir atau berumah tangga, lain halnya dengan saya. Saya masih berstatus sebagai anak kuliah :-). Saya mulai menuntut ilmu dari TK-SD-SMP-SMA-D3-S1-S2 tanpa jeda, saya lulus S2 pada usia 25 tahun. Banyak yang bertanya kepada saya : “apakah kamu tidak merasa lelah/capek  kuliah terus?”. Saya jawab : “Ada kalanya saya merasa lelah namun saya masih bersemangat untuk menyelesaikan kuliah saya”. Dari saya kecil, saya tidak pernah membayangkan kalo suatu hari nanti saya bisa kuliah sampai jenjang S3. Namun, takdir mempunya rencana indah untuk saya.

Ayah saya mempunyai tekad kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika saya lulus D3 di IPB, saya melanjutkan kuliah extensi S1 di UGM.  Selesai sidang skripsi S1, ayah saya menawarkan ke saya kesempatan untuk kuliah S2 di UGM. Saya tidak pernah minta kuliah S2 namun ayah saya memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah S2. Dan ketika tawaran tersebut datang maka saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kesempatan melanjutkan kuliah S2 saya ambil, dan saya mendaftar wisuda S1 dan pendaftaran masuk kuliah S2 pada hari yang sama. 2 minggu setelah wisuda S1 saya langsung masuk kuliah S2. Di angkatan S2 saya termasuk mahasiswi termuda di kelas. Sayapun berhasil lulus S2 dalam waktu 4 semester.

Setelah lulus S2, saya diterima bekerja di gedung rektorat Universitas Indonesia sebagai salah satu staf IT. Selama saya bekerja di tempat tersebut saya selalu belajar hal-hal baru. Saya bekerja disana selama 1 tahun 9 bulan. IT Universitas mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008, dan saya diangkat menjadi ketua ISO-nya. Padahal saya belajar ISO dari nol dan ketika saya berhenti kerja hingga saat ini belum ada ketua ISO baru di IT-UI.  Saya berhenti kerja karena [lagi-lagi] tawaran dari ayah saya kesempatan untuk kuliah S3. Saya berpikir berkali-kali sebelum mengambil tawaran tersebut, dan akhirnya tawaran tersebut saya ambil. Persyaratan untuk mendaftar S3 di Universitas Indonesia tentulah tidak mudah. Banyak formulir yang harus diisi, ada tes tertulis, kemudian presentasi penelitian yang akan dilakukan kedepannya. Alhamdulillah saya berhasil masuk dan menjadi mahasiswa S3 pada usia 27 tahun. Di angkatan S3 saya merupakan mahasiswi termuda 🙂 .

Selama menjalani perkuliahan D3-S1-S2-S3 tentulah tidak selamanya mulus. Ada berbagai hambatan dan rintangan yang menemani perjalanan kuliah saya. Ada aja masalah yang menganggu dan mencoba menghalangi saya untuk bisa lulus tepat waktu. Pernah mengalami masalah komputer yang harus diservis berkali-kali, stack dengan koding, masalah asmara, pernah jatuh sakit dan memerlukan terapi khusus, masalah manajemen keuangan untuk biaya hidup (masa menjadi anak kost). Memang kiriman uang bulanan tidak pernah telat, tapi jumlah uang yang dikirim sangat pas-pas an untuk biaya hidup+biaya fotokopi buku. Meskipun ayahku membiayaiku kuliah hingga saat ini namun beliau tidak mengajarkan anak-anaknya hidup mewah dan berfoya-foya.

Semua hambatan yang saya rasakan tidak menjadikan saya lemah dan berputus asa dalam menyelesaikan kuliah saya. Jika ada yang bilang : “wah kamu bisa lulus karena kamu pintar”. Mendengar perkataan tersebut membuat saya tersenyum dan mengatakan : “saya tidak merasa pintar, makanya saya bersekolah lagi. Jika saya sudah pintar maka saya tidak akan bersekolah lagi”.   Ya, saya memang merasa tidak pintar. Saya lemah di pelajaran matematika, daya ingat saya lemah namun saya tidak berputus asa. Saya belajar keras selama saya kuliah, belajar dan belajar. Ketika saya menghadapi suatu masalah di dalam perkuliahan, saya akan bertanya kepada teman-teman kuliah. Ketika saya mengalami masalah berat dalam asmara maka saya mengalihkan pikiran saya ke urusan perkuliahan. Motto saya ketika saya kuliah di luar kota adalah “saya kesini untuk kuliah”. Ketika saya “down” dan pesimis–saya berusaha bangkit dan langsung teringat kedua orang tua saya, saya tidak ingin mengecewakan keluarga. Saya pernah mengalami kesulitan mencari referensi untuk topik skripsi dan tesis saya yang ketika itu topik tersebut belum pernah ada bahan referensinya di perpustakaan. Saya terus berusaha agar tidak gagal dan akhirnya saya berhasil lulus tepat waktu.

Selama saya kuliah, saya memang banyak menghabiskan waktu untuk belajar namun saya juga aktivitas lain yang bisa membuat pikiran saya menjadi “fresh”, diantaranya :
Adriana Sari

  • nyewa VCD film
  • nonton film di bioskop
  • hangout bersama teman-teman, sekedar cuci mata.
  • sesekali ke salon
  • ikut seminar-seminar gratis (untuk menambah pengetahuan)

Saya ingin berbagi tips kepada Anda yang sebagai mahasiswa atau staf/pegawai  dalam hal belajar/menuntut ilmu :

  • Belajar itu bisa dimana saja, kita bisa belajar hal-hal baru di tempat kerja atau di lingkungan kampus
  • Jika Anda minat/tertarik sesuatu hal maka pelajarilah dengan sungguh-sungguh, carilah referensi dari buku/internet mengenai hal tersebut. Tanpa minat maka Anda akan kesulitan untuk mempelajarinya.
  • Jangan pernah berputus asa, jika Anda menemui kesulitan maka percayalah “dibalik kesulitan pasti ada kemudahan”. Tentunya hal ini memerlukan kerja keras dan disiplin.
  • Jangan malu untuk bertanya/berdiskusi  kepada orang yang ahli/lebih tahu mengenai suatu hal/bidang yang sedang Anda pelajari. Lebih baik dianggap”bodoh” dengan banyak bertanya dibandingkan diam dan bingung sendiri. Diam tak selamanya Anda jika berhasil dalam suatu hal (misal : berhasil menyelesaikan tugas A, atau niltai semester ini tidak ada nilai C). Memberi “reward” tidak harus yang mahal namun bisa menyenangkan hati, misalnya : menyewa film, menonton film di bioskop, atau makan es krim favorit, dan lain sebagainya.
  • Ketika Anda berputus asa ingatlah akan hal-hal yang membuat Anda termotivasi untuk maju terus dan tidak pernah menyerah.
  • Jangan menghabiskan waktu 24 jam sehari selama seminggu hanya untuk belajar, Anda harus seimbangkan hidup Anda dengan bergaul dengan teman-teman Anda den bertemu dengan orang baru. Bertemu dengan orang baru bisa menambah relasi atau malah bisa menambah ilmu baru. Tak ada ruginya berteman dengan orang baru asalkan bisa pilih-pilih mana teman yang sesuai dengan “kriteria” Anda.
  • Buatlah jadwal/schedule belajar Anda, dan patuhi schedule tersebut. Itu akan melatih disiplin Anda dalam belajar.

Sekian tips dari saya, semoga bermanfaat . Semangat!!!!!

 

 

Tag: , , ,

Membangun Akhlak Melalui Cerita Anak

Membangun Akhlak Melalui Cerita Anak

Saya sering menggali berbagai cernak (Cerita Anak) keseharian atau dongeng anak dari pengamatan terhadap tingkah laku anak-anak termasuk kedua puteri saya yang kerap menjadi nama tokoh dalam setiap cernak saya. Puteri yang pertama, Filza Azkiya, biasa dipanggil dengan Icha, sekarang berusia hampir 4 tahun. Sedangkan adiknya, Fayre Azkiya, biasa dipanggil Fay, umurnya sekarang hampir 2 tahun. Kedua puteri inilah yang kerap kali menginspirasi saya selaku bunda dalam menulis, demikian juga tulisan Cerita Anak yang ada di blog dumalana hampir semuanya tembus 1000 hits pembaca. Di dalam Cerita Anak itu, biasanya saya sisipkan pesan moral. (Lihat Blog Cerita Anak Noorhani Dyani Laksmi.)

Selain nama Icha dan Fay untuk tokoh yang protagonist ataupun antagonis, teman-teman bermain Icha dan Fay juga kerap menjadi sumber nama-nama dalam cernak saya. Dari sini, lahir 2 buku cerita anak yang saya persembahkan untuk anak-anak Indonesia.

membacakan dongeng cerita anakAnak adalah dunia yang penuh dengan kepolosan. Mereka, kata orang bijak, bagai kertas putih yang tergantung akan menjadi apa sesuai dengan coretan yang dituliskan oleh kedua orangtuanya.

Meluangkan waktu untuk membacakan berbagai cerita dan dongeng akan menjadi keasyikan bunda dan putera puterinya dalam menghabiskan waktu secara cerdas emosional dan berkualitas.

Saya yakin, setiap orang tua, terutama bunda yang bekerja seperti saya, yang tidak bisa selalu mendampingi mereka berdua setiap saat, pasti berharap bisa mendidik dan membangun akhlak yang baik buat mereka. Saya kadang iri dengan bunda yang bisa FTM (Full Time Mother). Siapa sih Bunda yang tidak ingin mendampingi putera-puterinya terus-menerus? Hanya saja, kita hidup selalu ada prioritas yang mengharuskan kita memilih.

Memenuhi hasrat hati, tulisan saya lebih banyak seputar Cerita Anak. Saya ingin lewat tulisan-tulisan ini mengalir transfer akhlak yang baik buat anak-anak dalam masa pertumbuhan jiwanya. Saya berharap persembahan kecil ini bisa bijaksana tanpa ada rasa menggurui. Semuanya tertuang dalam Cerita Anak dan Dongeng.

Jakarta, akhir September 2011 (di sela-sela kesibukan)

written by Noorhani Laksmi edited by Ma Sang Ji

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 29 September 2011 in Edukasi, Mendidik, Parenting

 

Tag: , ,